Namun, perkembangan kawasan yang terletak di Kecamatan Muara Kaman ini terkesan kurang mendapat perhatian menyeluruh dari masyarakat sekitar.
Pantauan Korankaltim.com menunjukkan, dengan luas lebih dari satu hektare, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menjaga kawasan ini. Mulai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, perpanjangan tangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim, hingga Pemerintah Kecamatan Muara Kaman, semuanya terlibat dalam penataan dan pemeliharaan situs.
Meski pengelolaan kawasan cukup baik, upaya pemeliharaan ini belum mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar, khususnya dari ahli waris yang mengklaim kepemilikan lahan di sekitar situs Lesong Batu. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kelestarian kawasan bersejarah tersebut.
Hal ini diungkapkan langsung oleh juru pelihara, Abil yang kesehariannya merawat dan membersihkan kawasan Lesong Batu ini.
“Pembangunan benar ada, dilakukan penataan juga namun tidak dilakukan secara menyeluruh, artinya masih ada pilih kasih semisal di kawasan ini dikelola, dibangun dan ditata, sementara di kawasan sisi lainnya tidak hal ini dikarenakan terjadi klaim kepemilikan lahan warga,” ungkap Abil kepada Korankaltim.com, Selasa (18/11/2025).
Abil yang juga merupakan putra daerah asli Kecamatan Muara Kaman ini mengaku cukup prihatin dengan kondisi ini, karena kawasan yang dijaga dan dirawatnya setiap hari ini dianggap sakral dan suci bagi umat Hindu.
“Bahkan menjadikannya seperti layaknya Makkah bagi umat Islam, terlebih lagi saat peringatan upacara galungan dan kuningan, ramai saudara-saudara umat Hindu kita berkunjung kesini,” ujarnya.
Namun bagi masyarakat setempat, menganggap kawasan situs Lesong Batu ini biasa saja. Oleh karena itu, Abil pun berharap dengan momentum upaya bersama menjadikan arsip Prasasti Yupa ini menjadi memori kolektif bangsa.
Ia berharap agar ada kepedulian menyeluruh bagi semua terutama bagi masyarakat sekitar yang turut memberikan dukungan agar situs ini dapat dikelola menyeluruh dan menjadi rujukan wisata religi bagi Kutai Kartanegara bahkan Kaltim hingga nasional.
“Mengingat spesial dan istimewanya kawasan ini dianggap oleh saudara-saudara kita dari umat Hindu semoga toleransi beragama tetap dikedepankan seperti layaknya Bhineka Tunggal Ika yang menjadi dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Abil.
Editor: Erwin