Kepala Kesbangpol Kukar, Rinda Desianti menjelaskan, pendidikan politik tidak bisa diukur dari hasil jangka pendek, melainkan dari perubahan pola pikir dan kesadaran warga dalam jangka panjang.
“Kegiatan pendidikan politik ini memang tidak bisa menghasilkan dampak secara instan. Target akhirnya adalah meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam proses politik,” ungkapnya.
Menurut Rinda, pemahaman masyarakat tentang arti penting politik sering kali masih sebatas pada momen pemilu. Padahal, politik menyangkut seluruh aspek kehidupan, mulai dari kebijakan pembangunan, kesejahteraan, hingga masa depan generasi muda.
Berdasarkan data dari Kesbangpol Kukar, hasil nyata program ini mulai terlihat dari Pemilu pada 2024 lalu sebanyak 83,24 persen, Pilbup 2024 dengan total 70,98 persen, sementara pada PSU 2025 sebanyak 67,76 persen.
Angka ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya semakin baik. “Artinya, kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam memilih pemimpin sudah semakin baik,” ujar Rinda.
Ia menilai peningkatan ini sebagai hasil dari kerja sama banyak pihak yang terlibat dalam menyosialisasikan pentingnya partisipasi politik, mulai dari lembaga pemerintah, tokoh masyarakat, hingga organisasi kepemudaan.
Kata Rinda, Kesbangpol Kukar terus melakukan inovasi dalam pendekatan pendidikan politik. Tidak hanya melalui seminar dan sosialisasi formal, tetapi juga lewat kegiatan berbasis komunitas seperti dialog warga, pelatihan bagi pemilih pemula, dan forum diskusi tematik. Tujuannya agar masyarakat merasa dekat dan tidak canggung membicarakan isu-isu politik.
Ia menegaskan, salah satu fokus utama Kesbangpol adalah menjangkau pemilih muda dan kelompok marginal yang selama ini sering terabaikan. Melalui pendekatan yang lebih ringan dan kreatif, diharapkan mereka memahami bahwa politik bukan hal yang menakutkan, melainkan wadah untuk menyalurkan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Namun, Rinda juga mengakui bahwa tantangan dalam pendidikan politik masih cukup besar. Salah satunya adalah rendahnya minat sebagian masyarakat terhadap isu politik karena dianggap rumit dan tidak berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, sebagian warga cenderung apatis terhadap proses politik yang seharusnya melibatkan mereka.
“Padahal, politik sejatinya adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan bersama dan membangun masa depan daerah. Jika masyarakat menjauh dari politik, maka ruang pengambilan keputusan akan diisi oleh segelintir pihak saja,” jelasnya.
Selain itu, masih terdapat tantangan lain berupa maraknya disinformasi dan kampanye negatif di media sosial, yang bisa mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap politik. Oleh sebab itu, Kesbangpol Kukar berupaya menghadirkan pendekatan edukatif yang lebih faktual, transparan, dan menyenangkan agar masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi.
Rinda menilai, pendidikan politik seharusnya dimulai sejak dini, terutama di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Agar generasi muda bisa tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara.
“Harapannya, kesadaran ini terus meningkat karena meskipun memilih adalah hak, hak tersebut juga merupakan bagian penting dari proses pengambilan keputusan untuk pembangunan lima tahun ke depan,” tegasnya.
Kesbangpol Kukar, lanjutnya, tengah menyusun peta jalan pendidikan politik lima tahun ke depan. Program ini akan menekankan pada kolaborasi lintas sektor, di mana lembaga pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan media lokal akan dilibatkan untuk memperkuat literasi politik masyarakat di seluruh kecamatan.
“Kami ingin pendidikan politik ini menjadi gerakan bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, hingga generasi muda agar pesan-pesan politik yang sehat dapat diterima masyarakat secara lebih luas,” ungkapnya.
Ke depan, Kesbangpol Kukar berkomitmen menjaga konsistensi program ini agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar membawa dampak nyata bagi kehidupan berdemokrasi.
“Kalau masyarakat sadar bahwa pilihannya menentukan masa depan, maka demokrasi kita akan tumbuh dengan lebih sehat, bijak, dan berintegritas,” pungkas Rinda. (*/kk)