Dua pangeran dan satu raden merebahkan tiang ayu tersebut setelah sebelumnya digelar ritual tepung tawar atau sawai yang dipimpin oleh pangeran.
“Prosesi ini menjadi tanda seluruh kegiatan Erau telah selesai dijalankan,” ujar Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman, M Saidar kepada Korankaltim.com disela acara.
Tradisi ini tidak pernah mengalami perubahan sejak masa Sultan Haji Batoran Dewa Sakti Raja. Seluruh tahapan mulai dari maringin, beluluk, beseprah, belimbur, bepelas hingga perembahan Tiang Ayu tetap dijalankan secara turun-temurun.
"Hal itu menunjukkan betapa kuatnya masyarakat Kutai dalam menjaga warisan leluhur," jelasnya.
Usai prosesi perembahan Tiang Ayu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama jajaran Kesultanan melanjutkan agenda resmi Gedung DPRD untuk mengikuti Rapat Paripurna Hari Jadi Kutai Kartanegara.
Editor: Aspian Nur