Masyarakat pun berbondong-bondong memadati halaman kedaton, tak sedikit dari mereka membawa buah hati untuk melihatkan adat istiadat tradisi di Tanah Kutai yang setiap tahunnya selalu dilaksanakan.
Dalam sambutannya, Kerabat Kesultanan Pengeran Noto Negoro atau dengan sapaannya Heriansyah menyampaikan kesultanan juga memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah bekerja keras sehingga rangkaian Erau 2026 dapat terlaksana dengan baik.
“Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya. Hari ini kita dapat berkumpul dalam prosesi Ngulur Naga, rangkaian sakral Erau Adat Kutai Kartanegara,” jelasnya, kepada Korankaltim.com, Minggu (28/9/2025)
Usai prosesi Ngulur Naga, acara dilanjutkan dengan tradisi Belimbur, yaitu ritual saling memercikkan air yang menjadi simbol penyucian diri, penghapusan segala hal buruk, sekaligus wujud rasa syukur. Dalam tradisi ini, seluruh masyarakat dari berbagai kalangan ikut serta dengan penuh kegembiraan.
Ngulur Naga sendiri melambangkan perjalanan kehidupan dan keseimbangan alam semesta, sedangkan Belimbur menjadi penutup sakral Erau yang selalu ditunggu masyarakat.
Kombinasi keduanya memperlihatkan harmoni antara warisan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan rakyat Kutai Kartanegara.
“Erau tahun ini kembali menegaskan bahwa Kutai Kartanegara adalah pusat warisan budaya tertua di Indonesia. Kesultanan berharap nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur dapat terus dijaga, sekaligus menjadi daya tarik pariwisata dan kebanggaan masyarakat Kukar,” pungkasnya.
Editor: Erwin