Beseprah awalnya dimulai dengan sambutan dari Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan arahan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Aji M Arifin yang disampaikan oleh Pangeran Heriansyah, Juru Bicara Sultan.
Secara gamblang dalam sambutan yang disampaikan Pemerintah Kabupate Kukar dan pihak kesultanan menegaskan kalau beseprah adalah duduk besila makan bersama-sama dan tidak boleh dibungkus atau dibawa pulang.
Namun fakta yang terjadi, setelah kentongan dibunyikan oleh Sultan dan jajaran pejabat daerah tanda dimulainya acara beseprah, pada sisi kiri dan kanan terlihat masyarakat yang antusias “sudah mengamankan” alias mengambil makanan dan membungkusnya untuk dibawa pulang.
Bahkan pantauan langsung Korankatim.com di lokasi acara, Sultan juga bupati beserta jajaran pejabat daerah belum beranjak dari tempat duduknya untuk menyelesaikan makanannya, tampak di beberapa stand sudah membereskan terpal atau alas duduk yang digunakan selama acara beseprah berlangsung.
“Mpai-mpai itu sorot dan tayangkan itu yang mahut liurnya ndak beangkut membungkus sampai ke odah-odahnya diangkut ndik peduli urang dah makan apa belum, baru maha kentongan dipalu dah kena raup sajian dalam lewang. Coba pahami makna beseprah tu, tolong hak etam nikmati salah satu acara di pesta rakyat etam ni, duduk kesahan makan bebaik ada sisanya baru hak bawa,” ujar salah seorang warga Tenggarong yang ikut acara beseprah dan meluapkan kekesalannya di media sosial dalam bahasa Kutai
Secara tidak langsung artinya adalah meminta agar disorot dan ditayangkan mereka yang membawa pulang makanan dengan tempat-tempatnya tanpa perduli orang lain sudah makan atau belum padahal baru saja kentongan dibunyikan dan meminta agar masyarakat menikmati acara dengan duduk serta makan bersama.
Editor: Aspian Nur