Penasihat Grab Pasar Seni Tenggarong (Gapster), Bobi Herawan menyatakan bahwa pihaknya merasa resah terhadap tindakan aparat yang dinilai tidak mengayomi masyarakat, bahkan justru merugikan terutama dalam insiden yang menyebabkan korban jiwa dari kalangan ojol.
Melalui diskusi internal yang telah dilakukan, komunitas ojol meminta agar pelaku ditindak secara tegas dan transparan. Mereka juga menuntut permintaan maaf secara langsung kepada keluarga korban, serta menekankan pentingnya perlindungan dan kompensasi yang layak bagi ojol yang terdampak.
“Pelaku harus dihukum seberat-beratnya secara transparan di hadapan media, agar menjadi efek jera dan tidak terulang di masa depan. Komunitas ojol menilai permintaan maaf dari pelaku atau institusi tidak cukup, apalagi jika tidak ada hubungan kekeluargaan dengan korban. Mereka menuntut keadilan hukum, bukan sekadar permintaan maaf,” kata Bobi kepada Korankaltim.com, Jumat (29/8/2025).
Mereka juga meminta agar keluarga korban mendapat tanggung jawab penuh dari pihak pelaku, termasuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak korban, serta pengobatan bagi korban ojol yang saat ini masih mengalami luka-luka.
Ada kritik bahwa instansi terkait hanya menanggung biaya pemakaman dan pengajian, tanpa memperhatikan kebutuhan jangka panjang keluarga korban dan pendapatan harian ojol yang hilang akibat insiden.
“Pentingnya perlindungan sosial dan kompensasi bagi ojol yang kehilangan pendapatan harian akibat kecelakaan atau insiden serupa, serta perlunya perhatian pemerintah dan instansi terkait. Mendesak penegakan hukum yang tegas dan transparan terhadap pelaku, dengan proses terbuka di hadapan media,” tegasnya.
Gerakan nyata yang akan dilakukan komunitas ojol menindaklanjuti tragedi memilukan ini yakni dengan melakukan advokasi dan komunikasi lanjutan dengan pihak berwenang untuk memastikan tuntutan komunitas ojol didengar dan ditindaklanjuti.
“Segera kami menjadwalkan pertemuan lanjutan di basecamp komunitas untuk membahas perkembangan dan langkah selanjutnya. Seharusnya kalau yang menabrak itu manusia jangan kemudian meneruskan menginjak gas dengan melindas, tidak punya otak apa,” tutupnya.
Editor: Erwin