Wakil Ketua BPD, Deni Saputra, yang juga menjabat sebagai ketua panitia, menyampaikan bahwa lomba ini diselenggarakan sebagai penutup rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.
“Persyaratannya meliputi ekspresi muka yang datar, tidak menanggapi interaksi atau gangguan penonton, serta bertahan dengan durasi yang sudah disepakati. Awalnya tiga jam, namun setelah dibicarakan bersama peserta, akhirnya diputuskan menjadi satu jam,” jelasnya, Minggu (10/8/2025).
Peserta yang diperbolehkan mengikuti lomba minimal berusia 15 tahun dan merupakan warga Muara Kaman Ulu. Meski begitu, beberapa peserta dari luar desa, termasuk mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sedang berada di desa, juga turut berpartisipasi.
“Tahun ini mereka ikut terlibat dalam berbagai kegiatan selama satu minggu di sini, jadi kami persilakan bergabung,” tambahnya.
Kegiatan lomba melamun dimulai hari ini, setelah sehari sebelumnya desa menggelar tradisi tahunan “beseprah”, sebuah ajang makan bersama untuk mempererat silaturahmi warga. “Setelah beseprah, barulah lomba melamun dilaksanakan,” ujarnya.
Antusiasme warga begitu tinggi. Pendaftaran yang awalnya dibuka luas terpaksa dibatasi hanya 36 orang karena kapasitas tenda. “Malam sebelumnya, yang mendaftar sudah lebih dari 50 orang, jadi kami tutup,” ungkapnya.
Selama lomba, peserta mendapat 5–6 kali gangguan dari juri atau penonton, namun bentuknya hanya tatapan muka tanpa sentuhan fisik.
Penilaian dilakukan oleh tiga juri melalui rekaman video untuk memastikan keakuratan pengamatan. Pemenang akan dipilih untuk juara 1, 2, dan 3, namun hasilnya belum diumumkan karena proses penilaian masih berlangsung. Hadiah yang disiapkan bernilai jutaan rupiah, bersumber dari anggaran desa dan dana kegiatan lainnya.
Selain lomba melamun, panitia juga menggelar berbagai lomba tradisional seperti hempas bantal, balap karung, tarik tambang, memasukkan selang ke dalam botol, hingga memasukkan paku ke dalam botol.
Tahun ini, karena Desa Muara Kaman Ulu berhasil meraih juara umum MTQ tingkat kecamatan, panitia juga menambahkan lomba Tartil dan Dai Cilik khusus warga desa.
“Lomba melamun ini sebenarnya ide spontan yang muncul setelah beseprah, tapi justru jadi daya tarik utama tahun ini,” pungkasnya.
Editor: Erwin