“Kurang lebih 10 tahun saya dan keluarga hanya numpang listrik ke tetangga. Seadanya saja, karena memang kondisi kami pas-pasan,” ujarnya, Rabu (16/7/2025).
Ia mengaku bersyukur karena kini anak-anaknya bisa belajar dengan nyaman tanpa harus bergantung pada rumah tetangga.
“Alhamdulillah sekarang anak-anak saya bisa belajar dengan lebih baik, mandiri menggunakan listrik sendiri,” imbuhnya.
Program bantuan listrik ini merupakan bagian dari inisiatif sosial PLN melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) dan badan kesejahteraan pegawai lainnya.
Manager PLN ULP Tenggarong, Hasmon Karaeng menjelaskan bahwa pendanaan program ini bersumber dari donasi sukarela para pegawai PLN se-Kalimantan Timur dan Utara. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan kepada warga yang dinilai layak menerima bantuan.
“Program ini sering kami sebut Light Up The Dream, sebagai bagian dari upaya mewujudkan mimpi masyarakat yang belum memiliki akses listrik secara maksimal,” jelasnya.
Menurutnya, di tahun ini saja, bantuan serupa telah menjangkau sembilan pelanggan baru di berbagai daerah, termasuk di Loa Tebu, Loa Kulu, Bukit Biru, dan Jembayan.
Hasmon menegaskan sasaran program bukan hanya masyarakat yang tinggal di pelosok, tetapi juga mereka yang berada di kawasan kota namun belum mampu menikmati listrik secara mandiri.
“Banyak warga yang secara geografis terjangkau jaringan listrik, tetapi tidak mampu menyambung sendiri karena keterbatasan biaya. Jadi mereka masih menarik kabel dari tetangga,” ujarnya.
Program ini telah berjalan selama beberapa tahun dan menjangkau ribuan warga di seluruh Indonesia. PLN berharap ke depan lebih banyak pelanggan bisa dibantu, seiring dengan meningkatnya partisipasi pegawai dalam donasi.
“Harapannya bisa terus bertambah setiap tahun. Semakin banyak yang peduli, semakin banyak pula yang bisa kami bantu,” pungkasnya.
Editor: Erwin