Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan komitmennya untuk menjadikan momentum ini sebagai bagian dari strategi pemajuan kebudayaan daerah.
“Kami ingin memastikan tamu-tamu dari luar yang datang ke Tenggarong akan merasa nyaman dan membawa pulang kesan yang baik tentang Kutai, terutama dari atmosfer budayanya yang kuat,” ujar Aulia saat ditemui di ruang kerjanya oleh jajaran pengurus Lanjong Foundation belum lama ini.
Dukungan ini tidak bersifat simbolik belaka. Pemerintah daerah siap mendampingi festival dari sisi pendanaan maupun teknis demi kelancaran acara yang melibatkan puluhan seniman dari dalam dan luar negeri tersebut.
Seni dan budaya tidak bisa dipandang semata sebagai kegiatan estetika. Dalam pandangan pemerintah saat ini, kerja kebudayaan merupakan bagian integral dari pembangunan manusia yang utuh.
“Peningkatan kualitas dan karakter sumber daya manusia Kutai Kartanegara menjadi concern kami. Dan kerja-kerja seni budaya, seperti festival ini, menjadi salah satu jalan penting ke arah sana,” jelas Aulia.
Dalam konteks pembangunan daerah, seni dan budaya dipandang sebagai wahana untuk menanamkan nilai-nilai lokal, memperkuat jati diri masyarakat, serta menciptakan ruang dialog yang inklusif antar generasi dan antar budaya.
Kutai Kartanegara sendiri dikenal sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya. Dari peninggalan Kerajaan Kutai, ritual adat, musik tradisi hingga kerajinan khas. Semuanya menjadi bagian dari lanskap kebudayaan yang masih hidup.
Potensi ini tidak boleh hanya menjadi objek nostalgia, tetapi fondasi bagi strategi pembangunan masa depan.
“Heritage yang dimiliki adalah daya tawar strategis. Tapi kekuatannya baru akan terasa jika dibarengi dengan penguatan nilai dan karakter masyarakat, serta ekosistem kesenian yang sehat,” ujar Aulia.
Budayawan Kutai Kartanegara, Nala Arung, turut menyambut positif pertemuan ini dan menyebutnya sebagai momen penting yang menandai babak baru hubungan antara seniman dan pemerintah.
“Ini bukan sekadar audiensi. Ini adalah titik penting dalam sejarah relasi antara pekerja seni dan struktur pemerintahan. Di sinilah kepercayaan dibangun, dan arah bersama bisa dirumuskan,” ujar Nala.
Kehadiran pemerintah dalam kerja-kerja kebudayaan, jika dilakukan dengan sikap terbuka dan visioner, dapat memperkuat peradaban dari dalam.
Direktur Lanjong Art Festival Mimi Nuryanti menyebut tema tahun ini adalah Habis Barat Terbitlah Timur.
Bukan sekadar frasa puitis, melainkan seruan filosofis tentang arah pulang dunia seni.
“Barat dalam konteks ini bukan hanya geografis, tapi simbol dari ketergesaan, dari industrialisasi seni yang kehilangan makna. Timur adalah tubuh, tanah, doa, dan intuisi. Timur adalah tempat kita berpijak, dan dari sanalah cahaya bisa kembali menyinari,” ujar Mimi.
LAF adalah pintu pulang menuju hakikat seni. Tempat di mana pertunjukan tidak hanya dipentaskan, tetapi juga dihayati secara spiritual dan kolektif.
“Seni tidak selalu butuh panggung megah, ia hanya butuh manusia yang jujur,” tambahnya.
Dengan menghadirkan seniman-seniman dari berbagai negara dan latar budaya, LAF membangun ruang lintas batas yang lebih manusiawi. Sebuah laboratorium kebudayaan yang tidak hanya mempertontonkan, tetapi menyulam makna dari keberagaman.
Editor Aspian Nur