Jalan yang menghubungkan Sangasanga Dalam menuju Kelurahan Pendingin kini rusak parah, bahkan nyaris tidak dapat dilalui setelah longsor besar yang terjadi baru-baru ini.
Ketua RT 03, Sandi menjelaskan bahwa ini merupakan kejadian longsor kedua yang terjadi di kawasan tersebut. Namun, kali ini kondisinya jauh lebih parah karena menghancurkan badan jalan sepenuhnya.
Jalan tersebut diketahui merupakan akses vital yang dilalui anak-anak sekolah, para guru, serta masyarakat umum menuju kawasan Pendingin.
“Kalau dilihat dari jaraknya, tambang dengan jalan terlalu dekat. Padahal menurut Permen (Peraturan Menteri), jaraknya minimal 500 meter dari jalan,” jelasnya, Minggu (15/6/2025).
Usai longsor pertama, Kepala Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Timur telah turun langsung ke lokasi dan mengadakan dua kali pertemuan bersama masyarakat dan pihak perusahaan tambang.
Dalam pertemuan itu, PT Indomining selaku perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, menandatangani surat pernyataan siap bertanggung jawab atas longsor yang terjadi.
Masyarakat pun berharap agar jalan tersebut bisa diperbaiki dengan pengecoran seperti kondisi semula. Namun, hingga saat ini, belum ada proses pengecoran yang dilakukan.
Perusahaan baru menyiapkan jalan alternatif sementara di sebelah lokasi longsor. Sayangnya, jalan sementara itu mudah licin saat hujan, dan tidak mampu menahan beban kendaraan berat yang melintas setiap hari.
"Sejauh ini pihak terkait telah bertanggung jawab, dengan menyediakan jalan alternatif membantu anak sekolah, guru-guru sampai ke sekolah, karena memang itu jalur utama," ucapnya.
Pendingin sendiri merupakan wilayah yang menjadi objek vital nasional. Di sana terdapat pabrik smelter nikel dan berbagai perusahaan besar. Warga khawatir, jika jalan sementara ini terus digunakan tanpa perbaikan permanen, maka kerusakan akan semakin parah dan membahayakan keselamatan.
Selain akses jalan, masyarakat juga terdampak pemutusan saluran pipa PDAM akibat longsor tersebut. Selama dua hari terakhir, suplai air bersih ke Kelurahan Pendingin terhenti dan berdampak pada 600 jiwa. Hal ini memicu aksi unjuk rasa warga ke perusahaan, menuntut kepastian perbaikan jalan dan pemulihan layanan air bersih.
“Untuk sementara, perusahaan menyuplai air bersih menggunakan tiga tangki berkapasitas 20 ribu liter. Mereka juga sedang dalam proses penyambungan pipa, dan informasi terakhir suplai air PDAM sudah mulai kembali normal hari ini,” ungkapnya.
Warga menghargai itikad baik perusahaan yang terus berkoordinasi dan menjaga komunikasi dengan masyarakat. Namun, mereka menegaskan bahwa penyelesaian persoalan jalan harus menjadi prioritas, terutama karena jalan ini bukan hanya jalur masyarakat umum, tapi juga jalur logistik menuju kawasan industri strategis.
“Harapan kami sederhana, jalan ini bisa dibangun seperti standar provinsi lainnya. Apalagi jalan ini dilewati ribuan karyawan setiap harinya, begitu juga dengan warga yang juga melewati akses ini,” pungkasnya.
Editor: Erwin