Sandeq artinya tajam, bukan sekadar bentuk, tetapi falsafah melesat tanpa ragu, menembus samudra dengan keberanian dan kelincahan.
Lopi Sandeq adalah pusaka peradaban maritim, simbol kejayaan nenek moyang kita yang menjahit pulau-pulau dengan layar dan tali-temali.
Lopi Sandeq telah membuktikan bahwa Nusantara pernah disatukan bukan oleh batas, melainkan oleh samudra yang dipeluk dengan keberanian.
"Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.". Itulah falsafah Mandar yang hidup dalam setiap bentangankain layar Lopi Sandeq.
Sebuah pernyataan jiwa bahwa keberanian bukan berarti tak mengenal takut, melainkan tak membiarkan rasa takut mengubah arah.
Di tengah gemuruh pembangunan IKN, ia datang bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa kemajuan harus berpijak pada akar, dan masa depan yang kita arungi harus tetap bersandar pada pusaka budaya.
Layar terkembang, angin berpihak. Mari sambut Lopi Sandeq penyambung ruh laut Nusantara. Demikian sinopsis singkat tentang sejarah para pelaut mandar dalam mengarungi samudra di masa lampau dan masa kini.
Pada event Nusantara Cultural Festival yang juga pada malam penutupan dengan diselenggarakan akhir bulan Mei tadi, Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (BPW_KKMSB) Kalimantan Timur kembali mempersembahkan pertunjukan kolaborasi musik tradisional Mandar yakni calong dan rawana, calong yang terbuat dari batok kelapa dan bilahan bambu kering lalu dimainkan dengan menggunakan stik dari ranting kayu.
Alat musik ini adalah salah satu warisan budaya yang sampai kini masih dilestarikan dan dikembangkan. Selain itu rawana juga merupakan salah satu warisan alat musik yang terbuat dari kulit dan kayu dimainkan dengan tabuhan dan rampak serta paduan sastra tutur kalindaqdaq Mandar berisi pastoral
“OOhh lulluareu Iyyanasanna, wahai saudaraku semua kita adalah Nusantara, Nusantara adalah kita, Salam dari Mandar untuk semua Nusantara Mempersatukan kita”.
Penampilan kesenian BPW-KKMSB ini tampil memukau dan mendapat applause yang meriah dari penonton yang memadati Plaza Serimoni IKN, setelah sebelumnya pada hari pertama acara Parade Budaya Nusantara menampilkan Perahu Sandeq warisan laut dari nelayan mandar yang mendapat apresiasi dari tim penilai sebagai juara III diikuti sebanyak 32 peserta dari berbagai daerah, paguyuban dan sanggar seni.
Festival ini menjadi penegasan bahwa IKN dibangun bukan hanya dengan semen dan baja, tetapi juga dengan semangat gotong royong dan warisan budaya bangsa.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Otorita IKN menegaskan bahwa pendekatan kebudayaan akan menjadi bagian dari konsep kota hutan yang cerdas dan inklusif.
Acara ini digelar sebagai etalase kekayaan budaya Indonesia. Dalam balutan parade, pertunjukan seni, hingga pameran kerajinan, festival ini menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan kekuatan simbolik yang terus hidup dan berdenyut.
Ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKM-SB) Kalimantan Timut Hasanuddin Mas’ud dikonfirmasi Korankaltim.com, Rabu (4/6/2025) menyatakan bahwa festival ini bukan hanya tentang selebrasi, tapi juga memuat pesan.
Di tengah gempuran budaya global dan konsumsi digital yang masif, keberadaan festival semacam ini menjadi penting, menjadi ruang bagi budaya lokal untuk tetap eksis, dikenali dan dirayakan.
Festival Budaya Nusantara merupakan sebuah perhelatan budaya yang mempertemukan berbagai kesenian dan tradisi dari seluruh penjuru Indonesia. Dalam festival ini, beragam budaya daerah ditampilkan dalam bentuk pertunjukan seni, pameran kerajinan, bazar kuliner, hingga parade kostum adat. Festival ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai kebudayaan satu sama lain.
Festival Budaya Nusantara bukan hanya sekadar hiburan. Lebih dari itu, festival ini memiliki tujuan penting dalam membangun identitas nasional dan mempererat persatuan bangsa. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, acara seperti ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal harus tetap dijaga dan dihargai.
Budaya adalah warisan tak ternilai yang harus dijaga dan dilestarikan. Melalui Festival Budaya Nusantara di IKN ini, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dan pewaris budaya. Setiap tarian, setiap lagu daerah, setiap makanan khas semuanya adalah bagian dari jati diri bangsa.
Festival Budaya Nusantara di IKN, bukan hanya ajang pertunjukan, tapi juga ruang pertemuan yang mempererat hubungan antara warga negara dari berbagai latar belakang.
Dalam keberagaman yang dimiliki, tercipta harmoni yang indah, seperti pelangi yang bersinar setelah hujan. Kita terus lestarikan budaya kita, agar Indonesia tetap dikenal dunia sebagai bangsa yang besar karena budayanya.
"Festival Budaya Nusantara bukan sekadar ajang hiburan, tetapi merupakan wadah silaturahmi antar suku dan daerah. Melalui festival ini, kita bisa mengenal dan menghargai budaya satu sama lain. Apalagi di Kalimantan Timur yang dikenal sebagai miniatur Indonesia karena keberagaman masyarakatnya, kegiatan seperti ini sangat relevan dan dibutuhkan," ujarnya Hasanuddin Mas’ud.
Ia juga menambahkan bahwa KKMSB Kaltim selalu mendukung penuh kegiatan pelestarian budaya, termasuk menampilkan kesenian khas mandar seperti passayasayang. Menurutnya, budaya bukan hanya soal warisan masa lalu, tetapi juga identitas masa kini yang harus terus dijaga agar tidak tergerus zaman.
"Kita tidak boleh lupa dari mana asal kita. Tapi pada saat yang sama, kita juga harus terbuka dan saling menghargai budaya saudara-saudara kita dari seluruh Nusantara. Festival ini adalah ruang belajar, ruang ekspresi, dan ruang persatuan," tegas Hasanuddin Mas’ud.
Editor: Erwin