Sekitar 100 orang hadir dalam acara yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 22.00 WITA, memadukan pasar petang kreatif, pertunjukan seni lintas medium, hingga diskusi sastra yang sarat makna.
Program ini merupakan kolaborasi antara Lanjong Foundation dan Ruang Sastra Kaltim, dengan dukungan Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana kekuatan komunitas, ketika mendapat dukungan kelembagaan, mampu menciptakan ruang seni yang inklusif dan menggugah.
“Sore Literasi ini kami rancang sebagai ruang yang terbuka bagi siapa pun, dari mana pun, dengan cukup membawa tiket berupa puisi. Ini cara kami merayakan literasi sebagai bagian dari hidup sehari-hari,” ujar Mimi, Direktur Lanjong Art Festival.
Sekitar 10 UMKM turut meramaikan acara dengan membuka lapak makanan, minuman, karya seni, dan buku-buku literasi independen. Salah satu sorotan utama adalah stan “penulis langsung” di mana pengunjung bisa memesan tulisan berdasarkan kisah pribadinya, yang ditulis langsung di tempat.
Dari sisi pertunjukan, acara ini menampilkan kombinasi antara seni teater, musik, dan sastra. Teater TOS membuka acara dengan lakon puitik, disusul pembacaan puisi dari penyair Radika dan Indah Guzel, serta pertunjukan musik hip-hop berbahasa Kutai dan balada ekologis dari Baladastra.
“Ini bukan sekadar festival, tapi ruang penyembuhan. Panitia menghadirkan pengalaman yang intim dan penuh rasa,” ujar Novita, pengunjung asal Bontang.
Lanjong dan Ruang Sastra Kaltim juga menyajikan tiga repertoar sastra, termasuk monolog dari Rende dan pertunjukan berbasis antologi puisi serta cerpen. Semua pertunjukan ditata dengan estetika sederhana namun penuh kehangatan, menjadikan suasana terasa personal dan sakral.
Penutup acara diisi dengan diskusi bertema “Setelah Korrie”, mengenang warisan sastrawan Kaltim, Korrie Layun Rampan. Tiga narasumber, yakni Dahri Dahlan, Fitria, dan Kristal Firdaus, menekankan pentingnya membangun jejaring komunitas dan merawat keberlanjutan ruang literasi.
Acara ini mempertemukan pelaku seni dari berbagai kota seperti Tenggarong, Bontang, dan Samarinda. Bagi pengunjung, ini lebih dari sekadar hiburan melainkan sebuah peristiwa budaya yang menghadirkan harapan baru dari Tenggarong, yang menyala melalui kata, suara, dan pertemuan.
“Agar ekosistem ini hidup, tugas kita adalah menjaganya bersama-sama terutama seni dan budaya melalui ruang-ruang pertunjukkan seperti ini,” tutup Kristal.
Editor: Erwin