Mereka menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang menggugah kesadaran: sebuah pertunjukan bertajuk “Melampaui Peran”, produksi Lanjong Foundation dengan dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Dipandu oleh seniman teater Budi Dharma, dan dramaturg Edi Sutardi pertunjukan ini lahir dari proses workshop intensif selama sepuluh hari. Lima belas aktor dari berbagai penjuru Nusantara-Kutai Kartanegara, Padang, Pontianak, hingga Banten, mengolah tubuh dan kesadaran untuk satu tujuan meruntuhkan sekat-sekat keaktoran yang selama ini membelenggu mereka.
Ahmad Qoshashih selaku Ketua Panitia sekaligus Direktur Lanjong Foundation, menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan sekadar pertunjukan.
“Kami tidak sedang membuat pertunjukan untuk dipuji. Kami ingin menciptakan ruang di mana aktor-aktor bisa bertemu sebagai manusia, bukan hanya sebagai pemain peran,” ungkapnya.
Pertunjukan dibuka dengan gerakan jatuh-bangun para aktor sebuah metafor tentang kegagalan dan keteguhan. Bermakna sederhana namun penuh makna, menyiratkan semangat tak menyerah dalam menghadapi keterpurukan.
Lalu panggung berubah menjadi kaleidoskop kehidupan guru yang mengajar, pedagang yang menjajakan dagangan, seniman yang melukis. Tubuh-tubuh para aktor membentuk koreografi kehidupan sehari-hari. Namun harmoni itu tak bertahan lama. Musik mulai retak, gerak tubuh menjadi patah, dan topeng-topeng mulai pecah
Menurut pengamatan redaksi, momen-momen tersebut bukan sekadar teatrikal.
Ia menyentuh lapisan eksistensial tentang manusia yang terjebak dalam sistem dan rutinitas, tentang kegelisahan akan kehidupan Menjelang klimaks, ruangan mendadak hening hanya tersisa debaran detak jantung mengartikan suasana sunyi.
Dalam suasana yang sunyi namun sarat makna, para aktor saling menopang, menari bersama, tanpa tuntutan bentuk atau irama. Tak ada klimaks dramatis, hanya ketulusan tubuh yang melepas beban identitas.
Seusai pementasan, Ahmad Qoshashih menyampaikan harapan karya seperti ini dapat terus dihidupkan di berbagai daerah. “Kita perlu lebih banyak panggung seperti ini, di mana masyarakat tidak hanya menonton, tapi turut merenung. Di mana seni tidak menjauh, tapi menyentuh," ujarnya.
“Melampaui Peran” berakhir tanpa gegap gempita. Tidak ada sorak-sorai berlebihan. Hanya tepuk tangan pelan yang terasa jujur. Penonton pulang dengan keheningan di dada, dengan pertanyaan yang belum selesai.
Pertunjukan ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi ruang kritik, ruang sembuh, dan ruang tanya. Bahwa tubuh bisa menyampaikan lebih banyak daripada wacana. Bahwa di balik setiap peran yang kita mainkan dalam hidup, ada diri yang belum tentu kita kenal.
"Seperti yang ditunjukkan malam itu, keberanian untuk melepaskan peran adalah langkah pertama untuk benar-benar menjadi manusia," tutupnya. (*/kk)