Anggota tim kajian Moriss menjelaskan kepada Korankaltim.com kalau metode yang digunakan dalam melakukan kajian adalah geolistrik, yaitu teknik injeksi arus listrik ke dalam tanah untuk mengetahui resistivitas batuan di bawah permukaan.
"Biasanya longsor itu dipengaruhi oleh jenis material di bawahnya, faktor alam dan aktivitas manusia sehingga kami perlu tahu apakah ada zona lemah yang menyebabkan longsor," ujar Morris Selasa (29/4/2025).
Saat meninjau ke lapangan, tim melakukan pengukuran berupa resistivitas untuk mengidentifikasi kondisi lapisan tanah dan batuan di bawah permukaan.
Hasil survei awal menunjukkan pengamatan sementara dari para ahli, area tambang yang berada di sekitar lokasi diperkirakan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap longsor, karena jaraknya yang cukup jauh dari titik kejadian.
Namun Moriss menekankan tim belum dapat menyimpulkan penyebab longsor secara pasti. "Saat ini kami masih dalam tahap observasi. Data yang kami kumpulkan harus diolah di laboratorium terlebih dahulu sebelum bisa diketahui penyebab pasti," ungkapnya.
Proses pengolahan data geolistrik memerlukan waktu sekitar satu minggu hingga hasil awal bisa keluar. Proses tersebut mencakup analisis resistivitas tanah, interpretasi geologi serta keterkaitan dengan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap terjadinya longsor.
"Tentunya tidak bisa langsung mengatakan ini akibatnya dari sumur bor, tambang atau murni faktor tanah. Semua harus berbasis data dan analisis ilmiah agar tidak ada simpang siur informasi dimasyarakat," pungkas Morris.
Diberitakan media ini sebelumnya, jalan poros Samarinda–Balikpapan, tepatnya di Kilometer 28 Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan mengalami longsor yang mana badan jalan turun sekitar 50 sentimeter tengah pekan lalu. Tak hanya tanah longsor, sekitar 11 rumah dan satu tempat ibadah juga terdampak akibat peristiwa ini karena mengalami retak imbas pergeseran tanah sehingga penghuninya memilih untuk mengungsi sementara.
Editor: Aspian Nur