Festival ini lebih dari
sekadar kompetisi menyeduh kopi. Ia adalah ruang dialog antara teknik
dan rasa, antara biji kopi dan perjalanan waktu. Para barista terbaik
se-Borneo akan unjuk kepiawaian dalam Brewers Competition, sementara
sesi cup tester membuka kesempatan bagi para penikmat kopi untuk
menyelami karakter rasa yang lahir dari tanah Kalimantan. Workshop
interaktif juga akan menghadirkan pengalaman langsung memahami seni
menyeduh, dari teknik manual hingga eksplorasi cita rasa.
Namun,
kopi bukan sekadar soal rasa, ia adalah budaya yang hidup. Hulu hilur
industri kopi sebagai komite di Festival ini juga akan menghadirkan
pertunjukan seni dari musik hingga monolog, yang merayakan bagaimana
kopi telah menjadi bagian dari peradaban. Dalam tiap denting nada dan
bait dialog, tersirat jejak kopi yang bukan hanya tumbuh dari tanah,
tetapi juga dari perjumpaan manusia dengan sejarahnya.
Di tengah
riuh rendah industri kopi nasional, satu varietas yang jarang disebut
mulai menunjukkan wajahnya kembali: kopi Liberika. Jika kopi Arabika
bercerita tentang dataran tinggi dan keseimbangan rasa, dan Robusta
menandai ketahanan dan intensitas, maka Liberika adalah kisah keteguhan
di tanah rendah.
Northside, komplotan pegiat kopi Kutai
Kartanegara, menyebut kopi Liberika sebagai harta yang belum sepenuhnya
digali. "Di Kalimantan, tanah berbicara dalam bahasa yang berbeda. Kopi
Liberika memahami itu. Ia tumbuh di dataran rendah, melawan arus
dominasi Arabika dan Robusta, namun menyimpan keunikan yang belum banyak
dikenal," ujar Yudha, Ketua Northside.
Sejarah mencatat, jejak
kopi di Kalimantan telah ada sejak 1962 di Linggang Melapeh, dibawa oleh
transmigran dari Jawa. Pada 1977, kopi Liberika mulai berkembang di
Kecamatan Sepaku melalui para perantau dari Pacitan. Sejak saat itu,
Liberika pelan tapi pasti berakar di berbagai wilayah Kalimantan Timur,
dari Kutai Kartanegara hingga Berau.
Dunia kopi sedang bergerak
menuju keberagaman. Ketika industri mulai jenuh dengan dominasi dua
varietas besar, kopi Liberika dari Kalimantan Timur bisa menjadi babak
baru dalam peta perkopian global. Ketahanannya terhadap perubahan iklim
dan keunikannya dalam profil rasa menjadikannya pilihan yang layak untuk
dikembangkan lebih lanjut.
Festival Kopi Borneo bukan hanya ajang
perayaan, tetapi sebuah upaya menegaskan bahwa Kalimantan Timur bukan
sekadar penonton dalam skena kopi Indonesia. Dengan pendekatan yang
tepat, baik dari sisi budidaya, distribusi, maupun promosi budaya,
Liberika dari tanah Borneo bukan tidak mungkin akan menjadi identitas
baru—sebuah kisah yang tidak hanya diseduh, tetapi juga diceritakan dari
generasi ke generasi.
"Harapan kedepannya kegiatan ini bisa
berkembang pesat khususnya industri kopi di Kukar, tentunya jangan
lewatkan, festival kopi borneo akan digelar pada 24-27 April
2025," pungkasnya. (*kk)