Kejadian memilukan itu membuat anak tersebut sempat enggan untuk kembali bersekolah, hingga neneknya berjuang keras demi pemulihan dan hak pendidikan sang cucu yang telah diasuhnya kurang lebih 11 tahun.
Anak tersebut mendapatkan perlakuan bullying oleh teman-temannya, dengan dimasukan di dalam ruangan yang saat itu tidak ada guru.
“Anak itu mendapatkan perlakuan dari teman-temannya di bully secara verbal dengan dimasukan dalam ruang kelas,” ujar Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, saat ditemui Korankaltim.com, Kamis (6/2/2025).
Merasa tertekan akibat perundungan yang dialaminya, anak tersebut nyaris mengakhiri hidupnya dengan memecahkan botol kaca dengan harapan dapat menghentikan perlakuan buruk yang diterimanya.
Tidak berhenti di situ, sesampainya di rumahnya kembali mencoba menelan 10 tablet paracetamol sekaligus, yang membuat tubuhnya lemas dan tak berdaya.
Untungnya, sang nenek menyadari keadaannya dan segera melaporkan insiden ini kepada tim TRC PPA cabang Kecamatan Anggana.
“Saat itu kami langsung berkordinasi dengan Polsek Anggana, agar segera ditindaklanjuti, Alhamdulillah saat itu dipinjamkan ambulance untuk dirawat,” bebernya.
Rina menyebut karena anak tersebut berasal dari keluarga kurang mampu dan belum memiliki jaminan kesehatan, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit AWS Samarinda untuk menjalani perawatan jalan.
“Saat hari sabtu tanggal 1 Februari, anak itu enggan kembali ke rumah, kami koordinasi dengan Dinas terkait untuk dilakukan upaya penanganan dirumah aman,” tuturnya.
Selang beberapa hari anak tersebut juga mendapatkan tindakan asasmen dari Psikolog, serta menunjukkan tanda-tanda pulih dari trauma, mulai bisa bertemu orang dan tertawa.
“Karena trauma mendalam tadi, anak ini sempat di rawat di Atma Husada (RSJ), tetapi hari ini sudah kembali ke rumah,” ucapnya.
Diketahui sang nenek, yang telah merawatnya selama belasan tahun, tampak rapuh dan sangat prihatin. Meski begitu, ia terus berkoordinasi dan berusaha sebaik mungkin agar cucunya pulih dan bisa kembali bersekolah.
Pihak TRC PPA Kaltim juga telah menjalin koordinasi dengan DP3A Kukar untuk melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap anak tersebut.
“Kami sudah koordinasi dengan DP3A Kukar, agar anak ini bisa disekolahkan secara online, karena sempat tidak ingin bersekolah lagi tetapi kami bujuk, ini masih proses tindak lanjut dari OPD terkait,” jelas Rina.
Tim TRC PPA Kaltim, Polsek Anggana hingga pihak terkait mengusahakan agar sang anak dapat melanjutkan pendidikan dengan layak dan kembali ceria seperti anak-anak diluar pada umumnya.
“Semoga tidak ada lagi kasus seperti ini, memprihatinkan sekali seorang anak yang hanya tinggal bersama sang nenek harus mendapatkan perlakuan bullying dari teman sebayanya, untuk orang tua juga diharap menjaga dan memperhatikan anak-anaknya,” pungkasnya.
Editor: Erwin