Apresiasi tinggi diberikan pemateri yang juga penulis ternama asal Kota Samarinda, Sukardi Wahyudi mengatakan atas terselenggaranya Festival Taman Pintar ini. Sukardi mengatakan kegiatan ini sangat luar biasa bertujuan untuk membangkitkan rasa literasi yang ada di Kutai Kartanegara.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini setidak-tidaknya kita menggugah semangat tentang literasi tentang menulis tentang membaca dan tentang membaca keadaan dan seterusnya itu yang paling penting,” kata Babe Sukardi sapaan akrabnya.
Kegiatan ini dihibahkan untuk para generasi muda guna lebih mengarah untuk masa depan khususnya Kutai Kartanegara bangsa dan Negara, kegiatan ini lanjutnya sangat luar biasa karena melibatkan semua komponen, anak muda, ada orang tua nya, ada seniman ada musiknya ada teaternya juga ada penampilan khas kebudayaan termasuk memberdayakan pelaku UMKM sehingga menghidupkan dan menggairahkan ekonomi kreatif yang ada di Kutai Kartanegara.
“Ya tidak menutup kemungkinan bisa setahun dua kali dan bahkan levelnya ditingkatkan jangan hanya untuk Kukar saja atau justru se-Indonesia kenapa tidak, karena Kukar itu pasti bisa yang penting ada kemauan dari stakeholder yang ada apalagi Diarpus Kukar ini pimpinannya sangat mendukung pengembangan literasi,” ujarnya.
Ketika ditanya seperti apa tantangan literasi dengan terpaan digitalisasi saat ini, Babe Sukardi menyebutkan bahwa ada sisi untung namun ada juga sisi kejelekannya, karena menurutnya kadang-kadang kita tidak punya waktu untuk meresap dan sebagainya dan yang paling celakanya lagi kita tidak pandai memilah dan memilih mana yang bisa dan mana yang tidak.
“Itu agak susah khususnya untuk anak-anak muda digitalisasi itu penting hal-hal seperti ini maka kita harus tetap memanfaatkan sebaik-baiknya sekali lagi kita harus pandai memilih dan memilah mana yang bisa kita pakai dan mana yang tidak kita harus pandai menyaring dengan terpaan digital ini sangat baik sebenarnya dan menunjang sekali. Kalau zaman dulu mengatakan rindu itu berat memang benar karena perlu berbulan-bulan tapi kalau sekarang ini kan hari ini detik ini juga muncul sudah tersampaikan (rindu, red) itu,” jelasnya.
Menanggapi terkait isu IKN, Sukardi menegaskan jangan sampai Jepen, Tingkilan dan budaya khas asli Kutai tersingkirkan seperti kesenian Ondel-ondel yang terjadi di Jakarta.
Sementara itu penulis nasional asal Bali, Oka Rusmini yang dihadirkan spesial pada Festival Taman Pintar ini juga berkesempatan berbagi pengalaman dan bagaimana upaya bersama untuk menumbuh kembangkan literasi.
Oka menjelaskan membangun literasi itu bukan persoalan yang mudah, karena mentor-mentor yang harus dipakai dan yang dimunculkan itu perlu dipublikasi juga, misalnya buku apa yang sudah ditulis oleh mentornya dan sampai di mana karya itu disebarluaskan dan mensasar ke generasi muda saat ini.
“Karena anak-anak muda sekarang menurut saya itu ketika mereka akan diajarkan oleh orang atau mendengarkan sesuatu oleh mentor, mereka itu mencari di Google itu yang membuat kita harus waspada ketika harus berbicara tentang literasi makanya saya sangat senang sekali diundang walaupun perjalan kesini sangat jauh sekali dan memerlukan fisik yang luar biasa,” terang Oka.
Oka berharap kedepan karya dari penulis-penulis daerah juga bisa diterbitkan oleh penerbit buku yang skalanya mayor seperti gramedia dan semacamnya. Sehingga bisa diakses publik lebih luas se-Indonesia. Membangun literasi ini bukan persoalan mudah, jadi satu hal yang harus dilakukan lagi karena festival ini ini masih rintisan, Oka berpendapat memang harus belajar banyak lagi, untuk misalnya mengundang sekolah-sekolah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kota, dengan harapan bisa mendatangkan siswa-siswi nya walaupun terkesan dipaksa.
“Tapi mereka harus diwajibkan datang dan itu harus dipikirkan dan itu tidak hanya bahwa literasi itu menarik secara visual yang akhirnya mereka juga gemar menulis sehingga tidak lupa membaca, karena persoalan anak-anak muda sekarang itu generasi yang visual yang melihat sesuatu dari kacamata visual sulit untuk berbicara seperti dulu mendongeng dan mereka tidak akan tahan untuk duduk berjam-jam,” bebernya.
Oka menegaskan Festival Taman Pintar ini sudah sangat bagus namun bahan evaluasinya hanya perlu berkolaborasi lebih luas lagi dengan sekolah-sekolah untuk bekerja sama karena sasarannya adalah mereka, kemudian kolaborasi dengan komunitas-komunitas dan instansi terkait.
“Ini sudah bagus konsepnya, out door rileks karena tidak seperti harus menyusun skripsi yang kaku dan yang serba tegang, ini santai dan kita mengajak mereka untuk bercerita,” tegasnya. (*/kk)