Ribuan masyarakat yang datang ke Kota Tenggarong dan sekitarnya basah kuyup saat Belimbur digelar namun mereka menyambutnya penuh keceriaan. Jalan Diponegoro tepatnya di depan Museum Mulawarman dipadati masyarakat, tua dan muda membaur menjadi satu dalam momen saling siram air yang berlangsung satu tahun sekali ini.
Acara dimulai dengan Sultan Kutai Kartanegara, Aji Muhammad Arifin memercikkan air tuli dari atas Rangga Titi kepada masyarakat yang berkumpul. Air tuli berasal dari Desa Kutai Lama di Kecamatan Anggana, sebagai simbol pensucian dan keberkahan.
Setelah itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar menyiramkan air menggunakan selang besar kepada masyarakat yang berkumpul di halaman Museum Mulawarman.
Acara Belimbur yang dimulai pukul 11.00 WITA berlangsung aman dan kondusif dan berakhir pukul 14.00 WITA.
Sebelumnya pelaksana Belimbur sudah mengeluarkan peraturan sebelum yaitu lokasi Belimbur dari kepala benua sampai buntut benua Kecamatan Tenggarong yaitu dikawasan Tanah Habang Mangkurawang sampai Pal 4 Jalan Wolter Monginsidi dan harus menggunakan penadah air atau gayung.
Masyarakat juga dilarang menggunakan air kotor, memasukan air dalam plastik, dan pompa air. “Akan diberlakukan sanksi hukum adat Kesultanan Kukar Ing Martadipura berdasarkan hasil mufakat, majelis tata nilai adat Kesultanan Kukar Ing Martadipura untuk mereka yang melanggar peraturan,” kata Aji Muhammad Arifin.
Tidak hanya warga Tenggarong saja yang ikut Belimbur. Kiki, warga Kecamatan Loa Janan sudah datang sejak pukul 07.00 WITA untuk menyaksikan acara ini.
“Baru pertama kali ikut acara Belimbur, ternyata seru sekali semua orang bekumpul dan saling bersimbur air,” kata Kiki kepada Korankaltim.com.
Sementara prosesi Mengulur Naga dilakukan yang mana dua pasang naga replika dengan panjang sekitar 31,5 meter diantar pihak kesultanan ke Negeri Jahetan Layar, Kutai Lama menggunakan kapal melewati Sungai Mahakam. Prosesi mengulur naga ini dipercayai sebagai memiliki kekuatan untuk mewujudkan harapan pemiliknya.
Editor: Aspian Nur