Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar Supriyadi menjelaskan, DBD memungkinkan meningkat apabila didukung dengan curah hujan yang meningkat, karena perkembangan nyamuk aedes aegypti begitu cepat dalam kondisi iklim yang lembab.
“Faktor utama karena musim hujan tapi yang harus diingat, musim di Kaltim ini berubah ubah,” kata Supriyadi kepada Korankaltim.com Kamis (19/9/2024).
Diketahui data DBD Kukar pada tahun 2023 mencapai 1.118 kasus, hingga Juni 2024 mencapai 1.532 kasus dan puncak kenaikan terjadi dipertengahan tahun di bulan Juni dan Juli. “Untungnya tidak ada korban jiwa, tetapi grafiknya meningkat saat bulan Juni dan Juli,” ungkapnya.
Saat ini Dinkes Kukar berupaya untuk mensosialisasikan kepada warga khususnya rumah-rumah mereka yang berada di pelataran sungai ataupun genangan air.
Begitupun pola asuh orangtua dalam memperhatikan anak bermain juga harus diperhatikan, sebab DBD ini banyak menyerang anak-anak kelompok usia 5-15 tahun.
“Yang harus diperhatikan ketika ada tanda-tanda gejala DBD seperti panas tubuh yang tinggi, ada bintik merah di badan segera bawa ke Puskesmas ataupun rumah sakit,” ujar Supriyadi.
Masyarakat juga diminta siap siaga dan waspada ketika curah hujan meningkat, selain itu terapkan hidup sehat dan pastikan bak air dikuras memastikan jentik-jentik tidak berkembang biak.
“Ketika curah hujan meningkat pastikan anak dalam keadaan sehat dan suhu yang normal, begitupun yang dewasa dan ketika panas tubuh meningkat segera periksa dan jangan panik,” tutup Supriyadi.
Editor: Aspian Nur