Ada 180 peserta meramaikan lomba yang dinanti-nanti para angler atau penghobi mancing yang berdomisili di Kota Raja. Diantara peserta yang mengikuti lomba adalah Budi Sucipto yang memperoleh hasil pancingan terberat pada perlombaan kali ini. Namun dirinya gagal menjadi juara pasalnya lomba mancing kali ini dikategorikan khusus untuk udang sementara pria 38 tahun itu mendapat ikan lele.
"Alhamdulillah lele kemarin yang saya dapat itu ditimbang hampir mencapai berat 2 kilogram. Kalau lombanya kategori ikan juara saya," ujar Budi kepada korankaltim.com, Minggu (8/9/2024).
Meskipun belum menjadi juara, Budi mengucapkan terima kasih atas penyelenggaraan lomba yang digagas Koran Kaltim dan dirinya bersama rekan-rekan sesama angler berharap gelaran semacam ini menjadi agenda tahunan.
Budi mengajak semua pihak baik pemerintah masyarakat umum dan seluruh penghobi mancing bersama-sama menjaga kelestarian habitat Sungai Mahakam. Selama ini dirinya dan sesama pemancing terpaksa menyalurkan hobi mancing jauh menuju daerah pelosok baik kawasan ulu maupun kawasan pesisir Kukar dan menjadi saksi kerusakan lingkungan sungai akibat ulah para pemancing ilegal.
Pemancing ilegal ini menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan ikan. Mereka tak segan menyetrum ikan, meracun dengan zat kimia, hingga meledakkan bom di dasar sungai.
Ketiga cara ini tak sekadar mematikan ikan kecil yang menjadi harapan keberlangsungan populasi ikan di sungai, namun juga merusak keseimbangan ekosistem sungai. Sebab, setrum, racun dan bom ikan juga mematikan kekayaan ragam hayati lain yang menjaga keseimbangan alam.
“Racun menjadi cara yang paling berbahaya. Dengan seringnya ada lomba mancing seperti yang digagas Koran Kaltim diharapkan semoga semua pihak berperan menjaga kelestarian Sungai Mahakam yang kita cintai ini. Kalau banyak ikan kan tidak perlu jauh-jauh mau menyalurkan hobi mancing," harapnya.
Selain eksploitasi yang tak ramah lingkungan, menurut Budi yang berdomisili di Kelurahan Maluhu ini kerusakan hutan di daerah hulu juga memicu sedimentasi sungai. Pendangkalaan sungai secara otomatis merusak habitat ikan dan aneka ragam hayati sungai yang lain.
"Semoga pihak perusahaan juga turut berperan menjaga kelestarian hutan dan lingkungan alam Kukar. Sukses jaya selalu Koran Kaltim, makasih atas semua fasilitas lombanya, semoga tahun depan ada lagi dan berharap lebih meriah lagi," ucap Budi.
Editor: Aspian Nur