Setelah sebelumnya dalam beberapa tahun Paskibraka dikelola dan ditangani Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), sejak pertengahan menjelang akhir tahun lalu hingga seterusnya, Paskibraka menjadi kegiatan yang dikelola oleh Kesbangpol.
Meski menjadi pengalaman pertama menangani Paskibraka, Kesbangpol Kukar dengan tangan dingin Kepala Badan (Kaban) Rinda Desianti ternyata cukup sukses mengantarkan anggota Paskibraka Kukar melaksanakan tugasnya dengan baik dalam pelaksanaan pengibaran dan penurunan bendera HUT 79 RI di Halaman Kantor Bupati Kukar, Tenggarong, Sabtu (17/8/2024) lalu.
"Anak-anak memang sejak 14 Juli sudah dimasukkan di Pusdiklat, Alhamdulillah sukses dalam melaksanakan tugasnya. Pengalaman pertama kali di Kesbangpol seru, capek," ucap Rinda Desianti dengan perasaan lega.
Ketika ditanyakan terkait apa saja evaluasi pada pelaksanaan pengalaman pertama yang dilakukan oleh Kesbangpol Kukar ini, Rinda mengungkapkan evaluasi nya cukup banyak, terutama sisi rekrutmen melalui aplikasi transparansi.
"Karena metode nya mungkin bisa sebaiknya ya per tahapan dan sistem gugur karena kalau tidak, maka problemnya itu menurut saya mencari bibit-bibit unggul di 20 kecamatan, misalnya kemarin dari 20 kecamatan ternyata ada 4 kecamatan yang tidak masuk ke dalam Paskibraka," ungkapnya.
Karena lanjut Rinda orang-orang yang mendaftar itu kriteria fisiknya tidak terpenuhi, misalnya perempuan tinggi minimal 165 sentimeter dan laki-laki minimal 170 sentimeter.
"Kriteria itu tidak terpenuhi yaitu di Muara Wis, Muara Muntai, Samboja Barat dan Kenohan. Harapannya ya tahun depan semuanya merata walaupun saya tidak bisa menjanjikan setiap kecamatan itu ada perwakilan," terangnya.
Hal tersebut tidak bisa dijanjikan setiap kecamatan ada perwakilannya, dikarenakan ini sistemnya tidak ada lagi titipan. Semuanya melalui proses yang betul-betul transparan.
"Harapan saya seperti itu. Dan satu kelemahan lagi adalah berkenaan dengan pemahaman dan pengetahuan mereka terkait wawasan kebangsaan. Benar itu saya kecewa karena misalnya tes wawasan kebangsaan itukan dia sistem gugur, banyak anak-anak secara fisik itu bagus tapi karena wawasan kebangsaannya rendah ya mereka ga bisa lolos pada tahapan berikutnya nah ini menjadi persoalan buat kami," tegasnya.
Padahal anak-anak ini potensial sebenarnya dari sisi fisik, tapi begitu masuk tes wawasan kebangsaan intelegensia umum nya gugur mereka.
"Jadi ini PR bersama, artinya kalau tidak dari awal kita beri pemahaman yang banyak yang matang yang mendalam tentang wawasan kebangsaan maka sulit nantinya kita akan mencari orang-orang yang baik secara fisik maupun mental yang memang bagus," pungkas Rinda. (*/kk)
Editor: Aspian Nur