Dalam kurun waktu itu pula, sejak pertama kali mendapat laporan dari masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara langsung mengerahkan anggotanya untuk membersihkan gulma tersebut. “Sudah masuk hari keempat kami membersihkannya dan masih dilanjutkan besok," kata Kepala Pelaksana BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar Abdal kepada Korankaltim.com Selasa (23/1/2024) sore tadi.
Penanganan pembersihan yang hanya bisa dilakukan dengan peralatan manual dan mekanis berupa mesin chainsaw jadi kendala dalam upaya mengatasi tumbuhan merugikan itu.
Belum lagi aliran sungai yang panjang dan memiliki banyak penghalang seperti tonggak pondasi rumah dan juga beberapa keramba ikan milik warga membuat proses pengerjaan pembersihan aliran sungai ini menjadi lebih lambat.
"Kami harus hati-hati menanganinya. Target kami bisa dibersihkan tujuh hari, syukur-syukur bisa lebih cepat, tergantung kondisi di lapangannya," papar Abdal.
Asal tumbuhan gulma yang menumpuk dan akhirnya berdampak bagi rumah warga sekitar pinggiran sungai tersebut belum bisa dipastikan, hanya saja perkiraan tumbuh ketika musim kemarau ditepi-tepi sungai sehingga saat musim hujan air sungai mengalami kenaikan dan tumbuhan gulma ini lepas dari tanah yang ditumbuhinya serta hanyut mengikuti arus air.
Editor: Aspian Nur