Kepala Dinkes Kukar, Martina Yulianti mengatakan, AKI adalah jumlah kematian wanita selama periode kehamilan, persalinan dan nifas atau penanganannya dan bukan karena sebab- sebab lain seperti kecelakaan, bunuh diri atau sebab insidentil per 100 ribu kelahiran hidup.
Kukar merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang memiliki AKI yang cukup tinggi. Hal itu mungkin juga ada hubungannya dengan luas nya wilayah Kukar dan kondisi geografis yang berbeda dengan kabupaten/kota lain di Kaltim.
"Upaya menurunkan angka kematian ibu di Kutai Kartanegara bukanlah sesuatu yang mudah. Permasalahan akses pelayanan merupakan salah satu masalah yang dihadapi mengingat kondisi geografis dan kurangnya ketersediaan petugas di beberapa desa yang cukup terpencil. Berbagai upaya telah, sedang dan akan terus dilakukan untuk menurunkan AKI di Kutai Kartanegara," katanya kepada korankaltim.com, Senin (25/12/2023).
Dokter Yuli sapaan akrabnya mengungkapkan, hasil penelitian yang dilakukan tahun 2013-2014 di Kukar oleh Dinkes Kukar bersama University of Adelaide menunjukkan bahwa akar masalah penyebab kematian ibu di Kukar ternyata tidak hanya pada ketersediaan akses saja. Beberapa faktor yang ditemukan menjadi penyebab kematian ibu antara lain adalah masih lemahnya standar prosedur penanganan.
"Termasuk juga kurangnya pengetahuan dan keterampilan petugas, masih terdapat gap komunikasi antar petugas kesehatan dan juga antara petugas kesehatan dengan ibu hamil yang sedang menunggu kelahirannya," ungkapnya.
Dia menyatakan, berdasarkan akar penyebab masalah yang ditemukan pada penelitian tersebut, Dinkes Kukar melakukan berbagai upaya dan inovasi agar dapat menurunkan kematian ibu dengan lebih cepat, termasuk melibatkan semua stakeholders pelayanan maternal mulai dari fasilitas pelayanan dasar hingga ke fasilitas pelayanan rujukan.
Dilakukan pengembangan dan penerapan instrumen yang merupakan alternatif pemecahan masalah dari akar penyebab masalah. Intervensi perbaikan ini dilakukan secara terus menerus dan dilakukan monitoring oleh Dinkes Kukar.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kukar, Leni Astuti menambahkan untuk memperbaiki gap komunikasi antar petugas dari faskes dasar ke rujukan, terdapat inovasi Hotline Maternal, sedangkan untuk peningkatan kapasitas petugas ada inovasi Duck n Duckling. Kemudian baru-baru ini telah dilaunching aplikasi Sidelimaku (Sistem Informasi Dekat dan Peduli Maternal Kukar) selain berbagai inovasi terkait maternal terdahulu seperti Srikandie, Indeks Rujukan dan lainnya.
"Proses penurunan AKI yang cukup panjang tersebut mulai menunjukkan hasil perbaikan. Pada tahun 2018 mulai terjadi penurunan AKI yang cukup signifikan dari 35 kasus pada tahun 2017 menjadi 22 kasus tahun 2018 dan 24 kasus di tahun 2019. Kemudian setelah pandemi COVID-19 terjadi lagi penurunan yang cukup signifikan yaitu 24 kasus di tahun 2022 menjadi 12 kasus di tahun 2023 yang merupakan angka di bawah target RPJMD Kutai Kartanegara," terang Leni.
Editor: Maruly Z