Kepala Dinsos Kukar, H Hamly didampingi Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Sunarko menceritakan, anak terlantar ini dialami dua kakak beradik yang usianya 7 dan 8 tahun sama-sama duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD).
“Terkait dengan kasus anak terlantar yang dimaksud kalau kita melihat dari sisi keluarganya memang keluarga itu miris, suami bekerja sebagai kuli bangunan dan istrinya bekerja di pasar namun sekarang sudah tidak bekerja karena anak tidak ada yang mengurus, jadi ibunya tidak bekerja agar anaknya yang kecil-kecil bisa terurus,” katanya kemarin.
Dari pendekatan dan pendampingan yang dilakukan Dinsos Kukar, diketahui keluarga ini memiliki enam orang anak. Anak pertama dan kedua umur 15 dan 12 tahun tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Sementara yang bersekolah anak ketiga dan keempat kelas 1 SD yaitu umur 7 dan umur 8 tahun. Dua anak ini yang kemudian dalam kerja jangka pendek ini Dinsos selamatkan untuk pendidikannya.
“Kita pantau dengan pihak sekolahnya kita penuhi kebutuhan anak di sekolah kita backup dan kita pastikan ke pihak sekolah supaya anak ini jangan sampai dia bolos, karena bagaimanapun dia harus mendapatkan pemenuhan hak pendidikan dia juga harus mendapatkan pendidikan yang sama dengan kawan-kawan yang lain-lainnya,” ungkapnya.
Sebelumnya Dinsos juga telah merampungkan terkait hak sipil dari keluarga ini. Waktu ada masalah terkait kependudukan ternyata kartu keluarganya memang belum dan itu pada saat kunjungan pertama petugas tidak langsung menyelesaikan pada hari itu juga, karena KK-nya berpindah dari kelurahan sebelumnya ke kelurahan tempat domisili sekarang.
Namun berkat kerja lugas dan tuntas Dinsos urusan kependudukan ini semuanya sekarang sudah rampung. Jangka pendek sudah beres yakni dua anak yang masih mengenyam kelas 1 SD tersebut sudah terpenuhi kebutuhan buku, dan seragam sekolahnya, untak jangka menengahnya, Dinsos akan mencoba anak pertama dan kedua yang berusia 15 dan 12 tahun belum pernah mengenyam bangku sekolah akan diupayakan ikut paket pembelajaran yang setara.
“Dua orang kakaknya yang tidak sekolah itu nanti akan kita asesmen dulu kita lakukan konseling dulu supaya dia mau untuk kembali ke dunia sekolah, karena bagaimanapun kita harus menyiapkan dari sisi pendidikan meskipun di kampung itu di ujung Gang dekat rumahnya itu anak itu ikut belajar mengaji di mushola itu dengan metode tilawatil, namun akan kita upayakan bisa mengikuti pendidikan formal,” terangnya.
Harapannya itu setelah setelah dilakukan pendekatan dan konseling, akan diarahkan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) rencananya akan diikutkan dengan program paket belajar untuk mengejar ketertinggalan. Karena kalau dikembalikan ke sekolah formal tidak mungkin, disebabkan usia yang bersangkutan sudah terlewat. Kemudian untuk langkah berikutnya Dinsos masih mencoba mengidentifikasi dengan ibunya. (*/kk)
Editor: Maruly Zainuddin