Bappeda dipimpin langsung Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah (P3D), Saiful Bahri, menghadirkan Ketua Tim Peneliti dari UGM, Alia Bihrajihant Raya, dan beberapa peneliti lainnya dengan dihadiri perwakilan kepala desa, Gapoktan, Kelompok Wanita Tani dan perangkat daerah terkait. Diantaranya Distanak, Disbun, DPPR, Dinas Perkim dan instansi terkait lainnya, di Ruang Rapat Bappeda Lantai II.
"Agenda ini adalah tahapan kami mulai tahun 2022 kita lakukan kajian dan 2023 ini kita menentukan wilayah-wilayah yang paling siap yang paling layak, misalkan ini kita punya sementara ini kita fokus empat desa, Bukit Pariaman, Cipari, Karang Tunggal dan Sumber Sari," kata Plt Kepala Bappeda, Sy Vanesa Vilna didampingi Kabid P3D, Saiful Bahri.
Saiful menjelaskan, keempat desa ini yang akan dijadikan fokus untuk studi kelayakan dan kemungkinan dari empat desa ini akan difokuskan lagi menjadi tiga desa yang paling potensial dan paling layak.
Selanjutnya setelah ada tiga desa, lanjut dia, kita akan buat desainnya. Adapun desainnya tidak hanya masalah terkait dengan lokasi-lokasinya saja tetapi sampai dengan konstruksi.
Misalnya model konstruksinya seperti apa, kemudian bagaimana penyediaan airnya dan bagaimana penyediaan listriknya, lalu bangunan itu menyesuaikan dengan kapasitas petani dan juga kesesuaian lahan, bahkan sampel tanah pun diambil, sampel air sumur, sungai, hingga melihat sudut ketinggian elevasi masing-masing wilayah itu terhadap jalan, terhadap gunung.
"Jadi kita betul-betul pastikan bahwa lokasi ini paling aman untuk pembangunan kawasan pertanian terintegrasi berbasis kawasan, dan selanjutnya kita juga tidak hanya bicara masalah fisik tapi kita juga mempersiapkan masalah sumber daya manusia. Tim kami dari Bappeda dan UGM juga menyiapkan sumber daya manusia di lokasi tersebut. Petaninya akan dilakukan pendampingan sampai dengan Desember jadi mulai nanti akhir Oktober 1 bulan ini efektifnya 25 hari kami akan melakukan pendampingan," jelasnya.
Melakukan pendampingan dari berbagai hal dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Misalnya mengelola membuat kompos, terus memanfaatkan kotoran ternak dan kita juga mempersiapkan bagaimana membangun bisnis dari konsep pertanian terintegrasi itu.
"Dan kawan-kawan UGM inilah yang nantinya mendampingi kelompok tani, Bumdesa dan juga pemerintah desa untuk membangun pemikiran persepsi yang sama terkait dengan pembangunan pertanian terintegrasi berbasis kawasan," tegasnya. (*/kk)
Editor: Maruly Zainuddin