Plt Kepala Bappeda Kukar, Syarifah Vanesa Vilna didampingi Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah (P3D) Bappeda Kukar, Saiful Bahri mengatakan kegiatan ini adalah bagian dari pelaksanaan RPJMD 2021-2026 yang di dalamnya tertuang pembangunan pertanian yang difokuskan ke beberapa kawasan khusus yang ditetapkan sebagai kawasan strategis pertanian terintegrasi.
“Dari situ Pak Bupati telah menetapkan 5 kawasan berdasarkan SK Bupati Nomor 1 Tahun 2022, di situ dijelaskan bahwa 5 kawasan ini nantinya dijadikan sebagai sentra pembangunan komoditas padi,” katanya, Senin (16/10/2023).
Saiful menjelaskan, Bappeda Kukar melihat hal ini bahwa pembangunan kawasan itu tidak hanya terkait dengan komoditas padi saja, pembangunan kawasan ini perlu ada sebuah konsep pembangunan pertanian yang nantinya memberikan dampak kepada peningkatan pendapatan petani itu lebih dari apa yang didapat mereka saat ini, yang selama ini hanya dari komoditas padi.
Selanjutnya lihat dari kondisi eksisting bahwa dalam wawasan itu sudah terdapat beberapa aktivitas-aktivitas lain selain padi sawah, misalkan seperti peternakan, perikanan, perkebunan juga ada bahkan ada pariwisata.
“Nah ini kami coba gali kami kaji di tahun lalu bersama UGM Tahun 2022 dan potensi ini harus dapat dikembangkan. Kondisi yang sekarang adalah tidak ada integrasi diantara potensi-potensi tersebut, nah kemudian kita kaji dalam konsepnya itu tidak semua wilayah yang kita sentuh tapi coba kita buat pilot project dari 5 kawasan ini menjadi 3 kawasan yang kita anggap ini paling potensial yaitu Tenggarong Seberang, Sebulu-Muara Kaman dan Loa Kulu,” jelasnya.
Dan dari kawasan itu selanjutnya dipilih desa mana yang paling siap untuk dijadikan pilot project kawasan terintegrasi, dan ini bukan berarti hanya desa terpilih itu saja tetapi desa ini menjadi pusat percontohan dan pengembangan pertanian berbasis kawasan.
“Jadi nanti di desa itu semuanya aktivitas-aktivitas pertanian seperti mulai dari persemaian, penelitian kemudian juga pada pertemuan-pertemuan kelompok tani dalam menyelesaikan masalah kemudian juga di sana kita coba beberapa teknologi-teknologi baru yang semuanya terpusat di sana dan ini harapan kita menjadi pemantik aktivitas petani itu lebih berkualitas,” bebernya.
Konsep ini lanjut Bahri, sebenarnya sudah dikembangkan nasional melalui pengembangan food estate, tapi itu kan konsepnya sangat ideal dan kita tidak bisa masuk ke sana karena memang lahan yang harus disiapkan itu sangat besar dan berupa hamparan, sedangkan di Kukar kan tidak berupa hamparan. Kemudian juga di Bappenas dulu periode sebelumnya ada membangun konsep tekno part, yaitu sawah pertanian yang difungsikan untuk menjadi laboratorium dalam peningkatan kualitas pertanian.
“Melihat dari beberapa program-program tersebut kami dengan UGM coba meramunya menyesuaikan dengan karakteristik di Kutai Kartanegara dan inilah kita masih proses mencari formula yang tepat itu untuk membangun pertanian di Kukar yang terstandar pada kebijakan RPJMD pertanian terintegrasi berbasis kawasan,” tegasnya. (*/kk)
Editor: Maruly Zainuddin