Gerakan melalui workshop yang dilaksanakan di Swiss BelHotel Samarinda pada Jumat (28/7/2023) hari ini mengundang kepala SD dan PAUD di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
"Jadi gerakan ini untuk merubah persepsi bahwa untuk masuk SD sudah harus sudah bisa baca, tulis dan hitung (calistung). Serta berdiskusi untuk membuat anak bisa merasa senang untuk belajar," kata Hetifah.
Disampaikannya, bahwa pada saat berada di PAUD, diajarkan bagaimana anak belajar hidup sebagai manusia, yakni dengan membentuk pondasinya sedemikian rupa sehingga siap belajar dan mengembangkan kompetensi di level lebih tinggi.
Selanjutnya, diharapkan ada perubahan metode atau cara pembelajaran ketika anak-anak ini masuk dalam pendidikan awal di kelas 1 dan 2 SD. Jangan sampai ada anak merasa tertekan saat masuk di jenjang pendidikan ini.
"Jadi pondasi kemampuan atau pendidikan awal harus dikuatkan terlebih dahulu. Bagaimana caranya membuat anak-anak menganggap belajar itu adalah suatu hal yang menyenangkan," tambahnya.
Kegiatan ini sendiri diapresiasi Direktur Sekolah Dasar Kemdikbudristek RI, Muhammad Hasbi yang turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Dirinya mengatakan transisi PAUD ke SD ini merupakan hal yang sangat penting.
Diakuinya selama ini ada miskonsepsi atau kesalahpahaman konsep karena calistung terkesan adalah hal yang utama dan menjadi satu-satunya tolak ukur dalam melihat perkembangan anak. Ditambah lagi masih banyak satuan pendidikan SD yang menerapkan calistung ini sebagai instrumen dalam menilai kesiapan anak untuk bisa masuk ke SD.
Mewakili Kepala Disdikbud Kukar, kegiatan tersebut juga disambut baik Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal dan Informal (PAUD dan PNFI), Pujianto.
Gerakan ini dikatakannya adalah sebagai salah satu langkah dalam menyelaraskan cara pembelajaran antara PAUD dan SD. Agar kegiatan belajar pada anak menjadi hal yang menyenangkan dan bukannya menjadi hal menyeramkan.
"Semoga melalui kegiatan ini kita bisa membuat anak-anak semakin mau untuk belajar sejak dini. Tapi ini tidak bisa bertumpu pada satuan pendidikan saja tetap perlu keterlibatan orang tuanya untuk membuat belajar itu menjadi hal yang menyenangkan," harapnya.
Editor: Maruly Zainuddin