"Komen di FB (media sosial)kan ada orang bertanya kapan pelaksanaan Erau, kemudian ada yang jawab di situ Erau dilaksanakan 9 September tahun ini, kemudian dia jawab Erau lebih baik disetop di-off kan saja karena menggangu orang yang lewat," kata perwakilan Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Raden Cokro Prabu kepada korankaltim.com, Sabtu (8/7/2023).
Atas perbuatannya ini, pihak kesultanan berusaha menghubungi M untuk dilakukan pendekatan dan yang bersangkutan bersedia. Selanjutnya, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin juga turun tangan memberikan arahan kepada M.
"Kami inbox hubungi, kami suruh datang dan ada konfirmasi untuk datang ke Kedaton dan yang bersangkutan disuruh berziarah di seluruh makam para Sultan dengan para kerabat dan Yang Mulia Sultan juga langsung mengundang yang bersangkutan ke kediaman pribadi beliau untuk mengklarifikasi hal tersebut dengan disaksikan langsung oleh pihak aparat," ungkapnya lagi.
Raden Cokro menjelaskan, oknum ini kemudian diminta membuat surat pernyataan serta video permintaan maaf pada sidang adat yang dilakukan oleh pihak kesultanan. Hal ini dilakukan pihak kesultanan demi tetap menciptakan suasana kondusif di tengah-tengah masyarakat. Diharapkan ke depan tidak ada lagi warga baik itu berasal dalam Kukar maupun warga pendatang agar bisa menghormati segala adat istiadat di Kukar.
"Pihak kesultanan mengharapkan kepada orang luar yang berada di sini (Kukar), dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, dalam hal ini dimana pun kita berada harus menghargai adat budaya dan tradisi dimana kita berpijak. Karena kerajaan Kutai lebih dikenal semenjak belum berdirinya NKRI yang mana ini adalah kearifan lokal memang harus kita jaga," tegasnya.
Editor: Maruly Zainuddin