Didampingi Juli Arianto & Partners, keluarga almarhum yaitu bapak dan ibu almarhum, kakek, adik, sepupu, tante beserta paman mengadakan konferensi pers di sebuah kafe di Tenggarong Kota, Senin (1/5/2023).
Keluarga almarhum menyampaikan secara terbuka dan memohon perlindungan dan bantuan kepada Presiden RI Jokowi.
“Kami mohon bantuan pelindungan hukum kepada presiden, Panglima TNI Jendral Laksamana Yudo Margono, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Bapak Kepala Staf angkatan Darat TNI Jenderal Dudung Abdurrahman, Ibu Ketua DPR RI Hj Puan Maharani yang mana mulai tanggal 14 April 2023 hingga sampai saat ini kami tidak mendapatkan kejelasan terkait meninggalnya anak/saudara kami Almarhum Serda Muhammad Herdi Fitriansyah di tempat tugasnya batalyon Arhanud 16 Kostrad Makassar Sulawesi Selatan” kata kakek almarhum M Syahrani yang membacakan surat terbuka tersebut dihadapan media.
Ada empat poin yang disampaikan dan pertanyakan pada surat terbuka ini. Pertama ketika jenazah dikabarkan kepada keluarga bahwa Serda Fitri meninggal dunia karena bunuh diri atau gantung diri tertanggal 14 April dan kemudian tiba di Kalimantan Timur tertanggal 15 April.
Pihak keluarga mengalami banyak kejadian yang sangat ganjal, seperti ketika penjemputan jenazah di bandara Balikpapan pihak oknum atau dari kesatuan pertahanan Arhanud 16 Kostrad Makassar Sulawesi Selatan meminta ambulans Desa Perjiwa untuk menjemput jenazah di Bandara Balikpapan.
“Yang setahu dan menurut kami ketika ada anggota TNI meninggal dunia seharusnya ada pengawalan dan juga pastinya disediakan ambulan dinas dari kesatuan TNI namun fakta nya tidak, kemudian ketika kami mengeluarkan jenazah almarhum dari petinya kami menemukan banyak luka lebam dan bagian rusuk yang patah dan kami rasa ada dugaan penganiayaan. Yang mengantarkan jenazah kemarin pun ketika kami minta surat tugas dan minta surat serah terima jenazah juga mereka tidak bisa menunjukkannya” ungkap Syahrani.
Kemudian point yang kedua, sampai detik ini pihak keluarga tidak mendapatkan selembar surat pun terkait kejelasan fakta data penyebab meninggalnya Serda Fitri, dan perkembangan terkait hasil autopsi pun sampai detik ini pun pihak keluarga tidak mendapatkan informasinya.
Point ketiga, sampai detik ini juga keluarga almarhum belum menerima barang dan alat benda kepunyaan almarhum seperti handphone, laptop, buku rekening bank, dan barang-barang lainnya yang merupakan kepunyaan almarhum untuk dijadikan kenangan pihak keluarga.
Point terakhir atau keempat, sampai detik ini pihak keluarga sangat kebingungan dan tidak tahu mau mengadu kemana terkait perkembangan informasi penyebab meninggalnya Serda Fitri, keluarga tidak bisa mengakses dan mendapatkan informasi perkembangan penyebab meninggalnya almarhum.
Keluarga memohon dengan sangat perlindungan dan bantuan kepada presiden, panglima, kapolri, Kasad dan ketua DPR RI yang mana mulai tertanggal 14 April hingga sampai saat ini keluarga tidak mendapatkan kejelasan terkait meninggalnya anak saudara kami almarhum Serda Muhammad Herdi Fitriansyah di tempat tugasnya, Batalyon Arhanud 16 Kostrad Makassar Sulawesi Selatan.
“Kami selaku keluarga besar almarhum bermohon dengan sangat kepada presiden para pimpinan aparat penegak hukum untuk membantu kami menolong kami agar keluarga kami mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya dan semoga ini menjadi ladang pahala buat almarhum agar tenang di alam sana. Mohon dibantu kami ini keluarga yang tidak mampu, dan kami yakin seyakin-yakinnya anak cucu kami tidak gantung diri tapi digantung, tidak bunuh diri tapi dibunuh” tegas Syahrani.
Dari keterangan resmi kuasa hukum, sejak 28 April 2023 lalu sudah bersurat ke Kodam 14 Makasar dan Denpom, namun hingga saat ini surat yang dilayangkan belum mendapatkan tanggapan.
“Kalaupun masih menunggu hasil autopsi yang katanya satu bulan menurut kami itu kelamaan, autopsi itu dua minggu harusnya sudah keluar. Kami harap semua pihak terkait harus professional dan jangan ada yang ditutup-tutupi” ucap Juli Arianto.
Editor: Aspian Nur