
“Alhamdulillah Lanjong masih ada dan berkarya, diusia ke-21 tahun ini Lanjong menyuguhkan seni teater dengan tema ‘Tuha Maha’, tau-tau tua tapi tak banyak tau,” kata Direktur Yayasan Lanjong, Ab Asmarandana.
“Ini menjadi sarkasme bagi kami, karena belajar itu ternyata tidak ada henti-hentinya. Semakin tua harus semakin banyak belajar dan menundukkan kepala, banyak yang sebenarnya kami tidak tahu karena itu kami mengambil tema itu,” imbuhnya.
Tak hanya seni teater, Lanjong bersama Film Maker yang tergabung dari penggiat seni Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Tenggarong membentuk sebuah komite panitia kecil untuk produksi film Tuhing.
“Karena regenerasi yang paling mengkhawatirkan di dunia kesenian, tidak hanya di Kutai tapi juga diseluruh Indonesia. Regenerasi ini sangat diperlukan, karena itu dari komite kecil ini kami berbuat berkarya bersama-sama dengan teman-teman dari Samarinda, Balikpapan juga Bontang, membuat Film Maker muda berbakat itu, teksnya dibikin kemudian mereka langsung bikin, diputar 18 menit saja,” ucap Kang Abuy, sapaan akrabnya.
Pemutaran film ‘Tuhing’ ini juga menjadi satu kesatuan dengan pementasan teater yang berjudul kucing makan kebo. “Bagaimana fenomena sosial di masyarakat, bagaimana warna warni, ada banyak sekali paradigma baru bagaimana kita tetap independen bagaimana kita menyuarakan apa yang menjadi keseimbangan,” paparnya.
Dengan suksesnya perayaan HUT ke-21 Lanjong ini, Kang Abuy berharap ekosistem di dunia seni bisa lebih diperhatikan. Untuk berkesenian itu memang agak sedikit baku dan kaku sehingga untuk mengapresiasi saja agak payah dan agak susah, terus juga penggiat seninya jadi sangat berpikir beberapa kali untuk sebuah produksi, lama dan mahal juga belum tentu juga banyak yang menonton.
Editor: Aspian Nur