Satu diantara upaya itu adalah menindaklanjuti bantuan dari Kementerian untuk mengawal dan mencermati terkait data kemiskinan Kukar bersumber dari Kementerian Sosial.
"Mudahan saja data itu sesuai antara yang terdata sudah melalui jaringan Kemensos itu sesuai dengan faktanya, artinya kriteria yang menerimanya itu. Kemarin saya masih mempertanyakan itu karena kami belum melihat detail siapa-siapa namanya yang by name by address itu hanya global, seperti kecamatan Tenggarong sekian jumlahnya dan seterusnya," kata Edi kepada Korankaltim.com, Senin (12/9/2022).
Selain mengawal serta mencermati data, Edi mengaku juga sudah bersurat ke Kemensos untuk meminta data kemiskinan ekstrem.
"Kemiskinan ekstrem itukan kami belum tahu siapa by name by address nya, hanya membaca kriteria, diantaranya satu hari penghasilannya hanya 10 ribu rupiah, itu yang ingin saya lihat dan saya penasaran dimana sih warga Kutai Kartanegara ini yang memang satu hari penghasilannya 10 ribu rupiah," ungkapnya.
"Analisis saja dan saya terus ketemu kalau di Teriti (kawasan Tenggarong) ada pengelolaan sampah, saya ketemu dengan warga disana yang kerjanya mengumpulkan sampah plastik itu saya tanya ada yang 50 ribu rupiah lebih seharinya, jadi saya mempertanyakan dimana titik-titik yang kategori warga kita yang satu hari hanya 10 ribu, kecuali dia tidak punya kemauan kan beda gitu lho," imbuh Edi.
Pemkab akan mengkroscek dulu yakni dengan gencar terus melakukan verifikasi dan validasi data warga pra sejahtera di Kukar.
"Jadi memang data kemiskinan ekstrem ini belum kami dapatkan, kemarin saya mengutus dari Bappeda untuk koordinasi itu tapi diminta kita bersurat secara resmi ke kementerian," tegas Edi.
Penulis Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur