Kepala Dinas Perkim, Maman Setiawan mengatakan saat ini terkait upaya tersebut sudah berproses di tahap perencanaan. "Saat ini masih proses perencanaan belum ada perkembangan, tapi insya Allah September bulan depan sebagian perencanaannya sudah jadi. Kami perlu tambahan anggaran diperubahan karena biaya perencanaan itu ada kekurangan, ada bangunan struktur yang perlu penelitian jadi tidak semudah yang dibayangkan," papar Maman saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Rabu (23/8/2022) pagi tadi.
Banyak bangunan yang perlu didirikan yang diantaranya ialah bangunan pile slap, ada bangunan jembatannya tiga unit, bangunan komersil kemudian ada bangunan utilitas yang nanti mendukung untuk air bersih, kelistrikan, telekomunikasi dan sekaligus untuk pengolahan limbahnya.
"Itu yang belum terakomodir dalam anggaran jadi kami perlu tambahan anggaran. Untuk fisik hitungan kasar itu masih sekitar 200an miliar rupiah, biaya perencanaan kan harusnya kan besar tapi kan kami ada kerjasama dengan akademisi jadi saya bisa tekan biaya perencanaan, cuma tetap saja masih kurang, untuk upaya kerjasama ini kami menjalin dengan UII Yogyakarta," sebut Maman lagi.
Konsep awal dari penataan kawasan wajah Kota Raja ini, pada poin utamanya adalah penataan kawasan berbasis masyarakat dan berbasis lingkungan.
"Ide awalnya itu dari program Kotaku (kota tanpa kumuh), kemudian kaitannya juga kita sambungkan dengan IKN, kedepan kalau IKN sudah di Kalimantan Timur khususnya Kutai Kartanegara kita kan perlu wajah yang memang layak untuk disebut Ibu Kota," pungkas Maman.
Penulis Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur