Hanya Desa Gunung Sari yang menurut data terakhir masih terendam banjir dengan ketinggian 30 sentimeter hingga tiga meter namun air berangsur surut dengan cepat.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar Abdal kepada Korankaltim.com hari ini menjelaskan, bergesernya tim ke Kembang Janggut karena mereka tadi malam sudah menerima informasi dari sekretaris camat Kembang Janggut kalau di Desa Kelekat ada warga yang ingin dievakuasi dari banjir.
"Saya belum tahu persis ini, apakah memang benar seperti itu. Sinyal juga susah untuk menghubungi anggota, komunikasi putus-putus juga sebenarnya," kata Abdal.
Personel di lapangan tidak akan pulang sebelum masalah banjir di kawasan hulu Mahakam ini benar-benar klir. Mereka baru akan pulang setelah bersama aparat di kecamatan bersepakat situasi dinyatakan aman.
"Kalau memang masih perlu bantuan, kami akan bertahan sampai kapanpun disana," tegasnya.
Sebagaimana tipikal banjir di kawasan hulu Sungai Mahakam ini, Kembang Janggut akan terendam banjir kiriman setelah banjir di Tabang surut. Desa Kelekat, Kembang Janggut merupakan desa yang pertama kali terdampak tentunya.
Banjir kiriman bisa terus mengalir ke kecamatan yang lebih rendah seperti kecamatan Kenohan.
"Bahkan kalau memang air laut pasang, Sungai Mahakam juga pasang, air di bantaran Sungai Mahakam seperti Muara Kaman, Kota Bangun biasanya juga ikut naik," jelas Abdal
Menurut laporan Satgas BPBD Kukar per hari ini, jalan umum penghubung kecamatan Kembang Janggut dengan Tabang masih terputus. Anak-anak tidak bersekolah sejak tanggal 17 Mei mengingat sekolah mereka masih terendam banjir.
Sejauh ini, dampak yang timbul secara keseluruhan akibat banjir ini ada sebanyak 780 kepala keluarga terdampak dengan total 1.300 jiwa, 300 rumah terendam juga 10 fasilitas umum. Kerugian seluruhnya diperkirakan mencapai Rp10 miliar.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur