
Kici juga harus punya rasa empati yang tinggi terhadap keluarga dan lingkungan sekitar.
"Disinilah Kici Kukar mengambil peran, kami berempati dengan pengusaha tahu tempe yang merasakan dampak dari harga bahan baku yang terus merangkak sehingga berdampak terhadap jumlah produksi dan daya beli masyarakat yang juga ikut turun," kata Yani kepada Korankaltim.com, Minggu (23/4/2022) hari ini.
Sebagai komunitas yang terdiri dari kumpulan ibu-ibu rumah tangga, tentu pihaknya merasakan apa yang dirasakan para pedagang tahu tempe.
Karena itu Kici Kukar berinisiatif membeli tempe dalam jumlah besar dan kemudian dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan.
"Sasaran utama tukang sapu jalan dan orang-orang yang baru pulang dari salat subuh, karena mereka bangun lebih awal dari orang-orang kebanyakan," ungkapnya.
Kegiatan yang dilakukan pada Sabtu (23/4/2022) kemarin berlangsung mulai titik kawasan traffic light Unikarta dan dilanjutkan keliling ke ruas-ruas jalan kawasan Kota Tenggarong.
Kici bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan tersebar di seluruh Indonesia dari segala penjuru, mula Jayapura dan Aceh termasuk juga Kutai Kartanegara dan Kici juga sudah tersebar di kota-kota besar luar negeri seperti di Australia, Denmark, Belanda, Singapore, Malaysia, Washington DC, Abu Dhabi, Inggris, Mesir, Texas, New York, Dubai dan Hongkong.
Kici Kukar melakukan gerakan ini pagi-pagi sekali agar pembuat tahu tempe biar merasa senang, bahagia dan bersyukur dengan hasil keringatnya sudah terjual cukup banyak.
“Karena mereka kadang harus beradu nasib, apakah yang mereka buat hari ini bisa terjual habis atau tidak. Kenapa pagi hari juga, karena kami memiliki sasaran para penyapu jalan, yang umumnya para ibu-ibu rumah tangga seperti kami juga, yang bangun lebih awal dari orang kebanyakan demi melaksanakan tugas mulia dan berjuang untuk keluarganya,” tutup Yani.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur