"Sangat layak memang ini harus dikembangkan dengan kerjasama pemerintah supaya masalah unsur budaya adat istiadat dan juga peninggalan sejarah Sultan Sulaiman, Sultan Alimuddin dan Sultan Parikesit itu harus dibukukan dengan baik sehingga semua turunan dan cucu bisa melihat, karena itu sejarah, siapa yang melupakan sejarah maka akan sengsara hidupnya," tegas John.
Ketua Umum DPP Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia menegaskan, target penyelesaian kepentingan trah tiga pilar Kesultanan dengan pemerintah pusat harus dilakukan dengan cara tidak usah onar, harus menghormati pemerintah, baik pemerintah kabupaten kota provinsi maupun pemerintah pusat.
“Saya datang ingin mengabdi, saya persembahkan hidup saya demi kemajuan dan peningkatan penghargaan terhadap keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura, saya persembahkan hidup saya dengan tulus," ungkapnya.
“Sudah banyak ratusan persoalan saya hadapi di seluruh Indonesia Alhamdulillah dengan bantuan Allah SWT bisa saya tangani,” sebut John lagi.
John Palinggi jadi tamu kehormatan keluarga besar kerabat kesultanan saat silaturahmi dan pembacaan doa haul Jumat (25/3/2022) malam lalu
John mengaku memiliki banyak kenangan dengan tanah Kutai dan mengakui dirinya berkunjung ke Kutai Kartanegara seperti kembali ke rumah sendiri.
"Saya anggap kembali ke rumah sendiri karena 38 tahun lalu saya berada disini sejak tahun 73 itu saya berada, Kutai, Samarinda dan Balikpapan, jadi pengusaha kayu, karena saya bekerja di Kutai dan minum air Sungai Mahakam, hidup saya berubah jadi lebih baik di Jakarta dan perubahan itu sendiri apapun yang saya lakukan berorientasi tetap pada apa yang bisa saya lakukan untuk Kalimantan Timur," papar John.
"Setiap orang harus mendukung pembangunan di Kaltim. Kalau ada 25 ribu orang protes itu dinamika yang biasa, tetapi mereka harus tahu pemerataan pembangunan di wilayah harus ada,” pungkas John Palinggi.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur