Kendati demikian, masyarakat muslimin di Mangkurawang masih mendirikan salat lima waktu, jumatan, hingga salat Ied di sana. Kubah masjid yang dilepas semasa renovasi ternyata memiliki andil penting. Percikan air hujan tak jarang mengenai orang yang sedang salat akibat dilepasnya kubah tersebut.
Tak hanya itu, tumpahan air hujan juga merusak ubin masjid yang berdiri sejak tahun 80-an ini. Tegel yang longgar menghasilkan bunyi seiring langkah jemaah yang berjalan di dalamnya. Tak jarang juga ditemukan tegel yang sudah retak karena lapuk terpapar panas sinar matahari.
Lurah Mangkurawang, Sufiansyah mengungkapkan, awal dari tidak terurusnya masjid ini adalah semenjak terjadinya peralihan kepengurusan atau pengelolanya. Yang sebelumnya pengurusnya berdasarkan SK Camat Tenggarong sewaktu Tajuddin Noor menjabat, beralih ke pengurus di bawah naungan sebuah yayasan berakta notaris.
"Selama ditangani oleh yayasan itu ya begitu lah keadaan masjid itu. Jadi kan kemarin ada pengurus yang di-SK-kan oleh camat, zaman Pak Tajuddin camatnya, nah itu dibekukan oleh beliau (ketua yayasan, Red)," kata Sufiansyah.
Kedekatan atau jaringan dengan berbagai pihak termasuk anggota legislatif maupun eksekutif di Kukar menjadi tawaran pengambilalihan kepengurusan masjid oleh orang-orang yayasan tersebut. Dalam artian menjadi kemudahan tersendiri bagi pengurus baru saat itu untuk mengusulkan sejumlah bantuan yang peruntukannya bagi pengembangan masjid ini. Membawa harapan masyarakat setempat bahwa masjid itu akan tampil megah nantinya.
"Tapi kenyataannya pembangunan masjid ya gitu-gitu aja selama kurang lebih delapan tahun ini," lanjutnya.
Menurut Sufiansyah, dana yang masuk untuk renovasi masjid ini sekitar Rp6,5 miliar berdasarkan informasi yang diperolehnya. Namun entah bagaimana masjid tersebut masih tak kunjung selesai.
Padahal jika karena persoalan dana, masyarakat setempat bisa saja mendonasikan hartanya untuk membantu membiayai renovasi masjid ini.
Kemudian terungkap fakta lain bahwa para dermawan enggan mendonasikan hartanya untuk renovasi masjid ini lantaran sudah jera. Bantuan-bantuan sebelumnya, baik sejumlah uang atau material, tidak langsung ditindaklanjuti dengan pengerjaan renovasi hingga akhirnya mangkrak.
Kondisi ini menjadikan pihak kelurahan bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat Kelurahan Mangkurawang bakal menggelar pertemuan dalam waktu dekat, tentunya dengan menghadirkan pengurus masjid ini. Harapannya, kepengurusan masjid ini bisa dikembalikan ke masyarakat agar menjadi hidup kembali.
Sufiansyah mengaku masih ingat sewaktu masjid ini baru dibangun sekitar tahun 1981, waktu itu dia kelas satu SMP. Warga setempat sering gotong royong untuk menghidupkan aktivitas masjid ini. Sehingga di masa kepemimpinannya sebagai lurah kini diharapkan dapat mengembalikan wajah yang menjadi identitas masjid yang sudah berdiri lama itu.
"Sudah lama masyarakat mau itu, cuman siapa yang pendobrak ini, tidak ada. Makanya dengan kepemimpinan saya mungkin hampir dua tahun ini mudah-mudahan," tandasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Supiansyah