Pria 37 tahun ini menceritakan jauh sebelum kasus yang baru ini terkuak, kejahatan seksual pernah dilakukan oleh pimpinan Ponpes kepada korban lainnya, tepatnya pada Oktober 2020 dirinya bersama teman akrabnya pernah membawa kabur seorang korban dengan misi penyelamatan atas permintaan langsung dari orangtua korban agar anaknya bisa diselamatkan dan keluar dari pondok pesantren yang dimaksud.
"Sebelum kebenaran ini terkuak, saya sudah mendengar kabar miring tentang pimpinan ponpes itu, awalnya saya tidak percaya dan akhirnya percaya tepatnya dari info teman yang kenal dengan orangtua anaknya yang dipondokkan disitu. Dinikahi secara siri tanpa sepengetahuan orangtuanya, waktu itu Oktober 2020, jadi dua tahun lalu. Nikahnya itu ternyata sudah ada setahun, orangtua korban tidak terima namun mereka tidak berdaya, karena orang tidak mampu, jadi takut dituntut balik atau apalah dan ketakutan lainnya serta lagian pada waktu itu korban tidak sampai hamil," ungkap Dedi kepada media ini di kantor pusat Korankaltim.com Senin malam (21/2/2022) tadi.
Oktober 2020 itu orangtua korban minta tolong agar bagaimana supaya anaknya bisa diambil. Dengan niatan ingin menyelamatkan dan permintaan langsung itu Dedi dan teman-temannya merencanakan untuk upaya penjemputan si korban namun dengan cara diam-diam untuk menghindari konflik fisik dan perdebatan dengan warga Ponpes.
"Kami bertiga kesana pakai mobil, kami datang untuk menjemput tapi sebelumnya sudah ada kontak dengan si anak itu. Sengaja nunggu dulu pas waktu Dzuhur saat semua pada salat, disitulah kami masuk ke pesantren, kalau kami masuk tiba-tiba ya pasti terjadi baku hantam atau apalah dan bisa ribet," papar Dedi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah orangtuanya yang diketahui berada di Kecamatan Loa Kulu ini, Dedi dan temannya juga sekaligus membawa sepeda motor milik korban, sehingga barang-barang milik korban pun semuanya juga dibawa pulang.
Sesampainya di kediaman rumah orangtuanya, si korban menangis histeris akhirnya bisa kembali pulang ke rumah orangtuanya.
"Dari cerita korban kepada kami, disana ada beberapa asrama yang sangat tidak layak bangunannya, misalnya santri yang lain di satu bangunan yang sama, nah khusus dia ini ditaruh di tempat yang berbeda. Setiap tengah malam sekitar jam 2-3 pagi si oknum ini datang ke dia untuk mengajak berhubungan, setiap sebelum berhubungan mereka salat tahajud berjamaah dulu, selalu seperti itu. Ini pengakuan dari korban sendiri kepada kami," ungkapnya.
Fakta ini terkuak awalnya dari bapak si anak yang mendapatkan pengakuan langsung dari si anak, sebelum dari upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Dedi dan teman-temannya dilakukan. Bapak dari si korban ini bercerita dengan penuh kesedihan namun tidak bisa berbuat apa-apa lantaran masalah pengetahuan dan memang dari keluarga yang tidak mampu.
"Teman saya kenal dengan bapaknya dan bapaknya itu curhat tentang bagaimana anak ceweknya digitukan, ya sedih tatapan matanya kosong namun mau bertindak tapi gak mampu, kayaknya si oknum ini banyak bekingan (dilindungi) atau apalah, sementara mereka kan orang tidak mampu," ujar Dedi.
Kembali bersumber dari pengakuan si korban, statusnya sebagai anak sangat merasa tertekan. Di satu sisi dia ingin menjadi istri yang tunduk dengan suami sirinya karena telah didoktrin sedemikian rupa oleh si pelaku, namun disisi lain dia paham dia takut durhaka dengan orangtuanya.
"Dia memanggil Abah ke pimpinan ponpes yang merupakan suami sirinya yang menggauli. Sebagai istri dia tidak mau durhaka dengan suaminya, sebagai anak dia juga tidak mau durhaka dengan orang tuanya. Dia itu bimbang dan sempat curhat ke teman-temannya, ke guru-gurunya di pondok situ, tapi apa yang dia dapat malah respon semuanya jadi lain, dia kayak merasa dijauhi," paparnya.
"Kalau dari keluarga korban ingin melaporkan kasus tersebut dulu itu merasa bimbang karena itu aib, kan malu kemudian yang kedua mereka itu orang kecil tidak mampu, itu dua masalah kenapa korban itu tidak mau lapor," jelas Dedi.
Sementara pimpinan Ponpes dimaksud dihubungi Korankaltim.com untuk menyikapi tuduhan yang ditujukan kepadanya. Upaya konfirmasi telah dilakukan namun tidak mendapatkan respon.
Sebelumnya pimpinan ponpes menyebutkan terkait persoalan hukum yang menimpanya ini merupakan ujian yang harus dilalui oleh dirinya dan keluarga.
"Biar aja ujian ini saya jalani. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada saya dan sekeluarga," kata pimpinan Ponpes itu.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur