H Rusli merupakan sosok baik hati di balik perjuangan Suriansyah mendapatkan gawai pintar untuk anaknya itu. Selain memberi Suriansyah pekerjaan, suatu hari H Rusli memberikan ponsel bekas milik anaknya bernama Lia (25) dengan kondisi layar retak penuh guratan untuk diberikan kepada May. Tak lama setelah hari itu, H Rusli dan Suriansyah harus dirawat intensif di rumah sakit karena terpapar Covid-19.
Lantas bagaimanakah nasib May? Apakah kejadian nahas bakal menimpa mereka? Kira-kira begitulah sinopsis dari film berjudul Layar Letak Untuk May, garapan sutradara Ahmad Faruq Wijaya yang diinisiasi oleh Sinema Kukar yang dinaungi oleh Komite Ekonomi Kreatif (Kekraf) Kukar dan disuport oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar.
Film berdurasi satu jam ini menampakkan potret dinamika bagaimana Pandemi Covid-19 di Kukar menyebabkan struktur ekonomi goyah hingga menguras sisi emosional masyarakat dengan kisah-kisah nahas dibaliknya.
Tujuan digarapnya film ini agar masyarakat melihat sisi emosional keluarga yang anggota keluarganya meregang nyawa akibat bencana kesehatan ini. Menjadikan masyarakat sadar akan pedihnya kehilangan anggota keluarga hanya karena lalai dalam menerapkan protokol kesehatan.
"Jadi kami punya jejak sejarah lah. Tahun ini pandemi rupanya seperti itu di Kutai Kartanegara. Mungkin akan ada, dunia juga buat (film), Indonesia juga buat, tapi dia tidak buat soal Kutai Kartanegara kan," kata Martina.
Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Kekraf) Kukar Akbar Haka menjadi produser eksekutif film ini. Dia menerangkan film ini akan disajikan menggunakan bahasa Kutai, diakuinya itu menjadi tantangan tersendiri dalam penggarapannya. Sekaligus semacam mentransfer bahasa Kutai sebagai bahasa Ibu Kota Nusantara nantinya. Jika tak menghadapi kendala, rencananya film ini bakal dirilis pada 2 Mei mendatang.
"Kami akan sewa atau pinjam XXI Samarinda untuk merilis ini. Harapan kami akan dibangun kerjasama walaupun ini film pendek akan masuk ke bioskop," tuturnya.
Diketahui ada sekitar lima komunitas film di Kukar yang bergabung untuk menggarap film ini, melibatkan sekitar 70 orang. Sutradaranya, Ahmad Faruq Wijaya mengatakan ada tiga struktur cerita terpisah yang harus terajut dalam satu benang merah untuk menghubungkan seluruh alur ceritanya.
Menurutnya, ada lima draf naskah yang sudah ditulis terkait dengan plot cerita film yang disusun, kemudian menggabungkan isi kepala SDM yang terlibat dalam produksinya.
"Itu tantangannya. Selain di pembentukan cerita, proses kreatif untuk human-nya bisa kita satukan frekuensi secara etos kerja dan pemahaman dalam berkarya," ucap Faruq.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur