Cerita-cerita soal dugaan pungutan liar pun beredar sampai membuat kisruh di jagad maya, hingga akhirnya jembatan tersebut dibongkar oleh masyarakat untuk menghentikan ribut-ribut soal pungutan itu.
Kapolsek Kenohan AKP Dedi Setiawan membenarkan jembatan itu sudah dibongkar kemarin. Awalnya, kisruh tersebut membuat Dedi beserta Kades Tuana Tuha mendatangi warga yang membuat akses jembatan tersebut dan mengimbau agar tidak ada pemaksaan dalam pengambilan tarif lewat jembatan itu dan menerima seikhlasnya berapapun yang diberi.
"Terus mereka oke menyetujui. Memang disadari atau tidak jembatan itu membantu. Kecuali jembatan itu yang membuat adalah pemerintah ya jelas salah mereka (masyarakat, Red," kata Dedi.
Peristiwa seperti ini pernah terjadi pada 2017 lalu. Warga membangunkan jembatan penghubung yang panjangnya hingga dua kilometer. Waktu itu, Tim Saber Pungli mendatangi lokasi untuk memastikannya. Berujung pada pembongkaran papan informasi tarif kendaraan yang lewat mengingat asas kebermanfaatannya.
Melihat jembatan ini murni dibangunkan atas swadaya masyarakat, menurut Dedi ini sebenarnya bukan masalah besar. "Gotong royong juga ya jadi nggak masalah," tuturnya.
Camat Kenohan Kaspul mengatakan dia bersama jajaran muspika dan beberapa kepala desa setempat dikerahkan untuk membantu mengatasi kembali putusnya akses jalan tersebut.
"Hari ini saya rencana beli batu dulu, karena jembatannya sudah habis dibongkar. Yang penting akses jalan ini bisa dilewati sambil menunggu air surut," tuturnya.
Dia meminta agar apapun yang menjadikan ini ramai diperbincangkan untuk dihentikan. Karena menurutnya tidak menjadikan persoalan ini selesai hanya dengan ribut-ribut di media sosial. Selain itu, hal ini juga bakal dilaporkan ke Bupati Kukar jika memang akses ini perlu disambung kembali.
"Saya masih sakit ini, cuman ingat warga saya, saya langsung berangkat. Jadi mudah-mudahan hari ini batu sudah masuk, kita perbaiki yang penting bisa lewat saja lah mobil-mobil bisa masuk," ujarnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Supiansyah