Sekretaris Lembaga Adat Kutai Lawas Satin menceritakan, pengusulan Tari Belian Namang ini sudah mulai dicoba sejak 2014 silam yang kemudian ditanggapi oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar dan Kaltim.
"Kami usulkan karena takut hilang, apalagi ini ibaratnya satu-satunya tradisi Kutai Adat Lawas," kata Satin yang juga eks Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedang Ipil kepada Korankaltim.com Selasa (1/2/2022) hari ini.
Pada tahun 2020 lalu, Belian Namang ditampilkan di Pagelaran Seni Sepanjang Tahun, Taman Budaya Yogyakarta pada bulan November sebagai syarat pengakuan WBTb ini.
Hingga tahun 2021, digelar beberapa kali sidang penetapan WBTb, bahkan perwakilan Kemendikbudristek juga menyambangi Kedang Ipil untuk melihat langsung apakah masih ada penerusnya, sudah berapa generasi yang melestarikan Belian Namang, dan beberapa hal lainnya.
"Sebenarnya proses panjang juga, didukung juga dari akademisi baik di Unikarta juga Unmul khusus bagian sastra lisan. Sekarang saya lihat sudah ada sertifikat (WBTb) di Disdikbud Kukar, nanti tanggal 12 Februari bisa jadi mereka kesini," papar Satin.
Belian Namang merupakan tarian dengan merapal mantra sambil mengelilingi benyawan di tengah-tengah beberapa penari.
Tarian ini pun memiliki bermacam peruntukan, biasanya dilakukan sebagai ritual penyucian diantaranya dilakukan saat malam ke-15 meninggalnya kerabat untuk ritual penyucian arwah.
"Kalau arwah ini biasanya kalau secara tradisi harus disucikan dulu, baru disamakan dengan arwah leluhur nenek moyang kita. Nantinya ikut jadi leluhur yang disebut kalungan," ungkapnya.
Namun Belian Namang ini sedang terancam terputus regenerasi. Satin berharap agar dilakukan pembinaan yang berkesinambungan kepada Pemkab Kukar khususnya Disdikbud.
"Memang seperti ini memerlukan biaya juga, kami tidak minta banyak juga. Latihan terus menerus, bukan hanya satu dua hari aja, tapi sepanjang tahun. Sehingga mereka betul-betul memahami dan mendarah daging," pungkas Satin.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur