Ketika air pasang, ular-ular tersebut seringkali tersangkut jaring tangkap ikan yang dipasang nelayan di sungai.
"Sebenarnya ini bukan fenomena yang luar biasa di Muara Muntai, memang ada pencarinya," kata Dahlan yang kini bertugas sebagai Kepala Bidang di Dinas Pertanahan Kukar itu.
Baik air sungai dalam keadaan pasang ataupun tidak, ular ini terus dicari untuk berbagai keperluan, dan memang ada pembeli khusus ular-ular tersebut.
Dahlan menyebut, ada juga masyarakat yang percaya bahwa hewan melata ini dapat dikonsumsi sebagai obat penyembuhan berbagai penyakit. Selain itu, kulit ular ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi mengingat kulitnya dapat menjadi bahan baku pembuatan tas maupun pakaian yang membawa kesan mewah.
"Istilahnya ini disebut musiman ya musiman, karena masyarakat kami nelayan itu memang penghasil itu, dijualkan," ungkapnya.
Dia sendiri tidak tahu awal mula dari aktivitas penangkapan ular ini. Dia menyebut pernah mendokumentasikan kegiatan ini. "Apakah hewan ini termasuk hewan yang dilindungi atau bukan. Kalau memang nelayan ketemu besisi, dipisahkan untuk mereka jual," tandasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan