Sudah ada dokter hewan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur yang mengambil sampel dari bangkai pesut ini untuk diteliti lebih lanjut. Belum diketahui pasti penyebab kematian hewan endemik yang dilindungi itu.
"Saya sendiri tidak ikut ke lapangan, ada tim dari kami yang mewakili bersama-sama BKSDA melakukan penguburan. Saya tahu, cuma untuk mengambil kesimpulan saya tidak berani," ujar Danielle dikonfirmasi Korankaltim.com siang tadi.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab kematian mamalia air tawar yang sering ditemukan dalam beberapa bulan belakangan ini. Sekitar dua bulan lalu, kata Danielle ditemukan dua bangkai pesut dewasa, salah satunya betina.
Ditemukan jaring tangkap nelayan di dalam lambung bangkai pesut itu. Kemudian dua pekan setelah itu, pihaknya menemukan bangkai bayi pesut di arah hilir sungainya. Untuk kasus penemuan kali ini, RASI belum bisa memastikan penyebabnya. Namun ada kemungkinan bangkai pesut yang ditemukan kemarin merupakan pesut yang belum lama lahir.
"Cuma kami belum mengetes, tapi bisa jadi itu bayinya yang baru lahir. Sudah melahirkan, tapi kan tidak ada induknya untuk menyusui, jadi bisa jadi mati karena induknya tidak ada," papar Daniella.
Memang seringkali ditemukan penyebab kematian pesut diakibatkan bekas jaring tangkap nelayan. Dalam kasus ditemukannya bangkai pesut dewasa di perairan Kota Bangun juga ditemukan jaring tangkap di dalam lambungnya. Itu menyebabkan proses mencerna makanannya menjadi terhambat.
Dalam penemuan bangkai kali ini, terdapat catatan penting bahwa bangkai bayi pesut ini ditemukan di jalur sungai yang intensitas lalu lalang kapal tagboat beserta tongkang cukup tinggi.
Dikhawatirkan itu menjadi faktor kematian pesut ini, mengingat sebelumnya ditemukan pesut yang mati di perairan Kedang Kepala ini langsung dikubur tanpa dilaporkan kasusnya ke BKSDA Kaltim. Harusnya dilaporkan mengingat populasinya yang sudah terancam punah.
Pihaknya masih menunggu analisa lebih lanjut terkait hal itu. "Otomatis itu menimbulkan pertanyaan kenapa dia mati. Saya dapat info berupa foto-foto dua bulan kemudian," sebutnya.
Pada 2019 lalu, populasi pesut Mahakam diperkirakan sekitar 80 ekor. Danielle memperkirakan bisa jadi jumlahnya sudah berada di bawah angka tersebut. "Kami masih dalam tahap identifikasi (jumlah populasi), mudah-mudahan dalam waktu dekat kami umumkan data terbaru," harap Daniella.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur