Kaur Inafis Satreskrim Polres Kukar Aiptu Dian Heri Wahyudi mengungkapkan, jasad Juasak ditemukan dalam kondisi mengenaskan di dalam gubuk berukuran tiga meter persegi itu. Seluruh tubuhnya terpanggang hingga menyisakan daging bagian dalam.
Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan saksi, Dian menyebut Rumiati biasanya menyalakan obat nyamuk bakar ketika sore hari sebelum almarhum ditinggal pulang. Obat nyamuk tersebut diletakan di atas botol plastik yang disebelah kirinya juga terdapat bantal berbahan busa.
Dapat disimpulkan bantal itu tersulut bara api obat nyamuk. "Karena obat nyamuk sifatnya bara, jadi penjalarannya cepat namun pasti. Posisi baranya terkumpul dulu, setelah sudah diposisi bara banyak dia tinggal memicu api itu dari udara. Cuma memang dalam waktu yang tidak instan," kata Dian kepada Korankaltim.com pagi tadi.
Kemungkinan almarhum sempat menghirup asap yang menyebabkannya pingsan terlebih dahulu karena penyakit stroke yang dideritanya menyebabkan bagian pinggang hingga kaki mengalami kelumpuhan dan membuat Juasak tidak bisa menyelamatkan diri.
Letak gubuk yang jauh dari tetangga membuat tanda-tanda kebakaran di lokasi terpencil itu sulit diketahui terlebih lagi lokasinya berada tepat di belakang bangunan rumah warga. Warga sekitar baru mengetahui ada kebakaran setelah api sudah besar dan memancarkan cahaya merah dari kejauhan.
"Mereka mendatangi lokasi dan tahu di dalam gubuk itu ada almarhum dengan kondisi sakit. Mereka memadamkan dengan alat seadanya. Pada saat padam di dalam sudah dalam kondisi terpanggang," jelas Dian.
Jenazah almarhum Juasak saat ini masih di RSUD AM Parikesit Tenggarong. Menurut Dian, pihaknya masih mengumpulkan informasi mendetil apakah jenazahnya perlu dilakukan otopsi atau tidak. Keterangan dari saksi pula menyebutkan, almarhum seringkali mengalami depresi, kehilangan kendali atas emosi dan suka melempar-lempar benda-benda didekatnya ketika marah.
Rumiati yang berusia 36 tahun mengaku malam sebelum musibah kebakaran terjadi dirinya bermimpi melihat almarhum yang sudah bisa berjalan. "Dia bilang, dek Rum makasih ya sudah merawat aku, sekarang aku sudah bisa jalan," ungkap Rumiati sambil menahan tangis.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur