"Beberapa pekan yang lalu ramai dibuat dapur umum, bikin nasi bungkus untuk distribusi ke rumah Isoman. Ternyata setelah dilakukan survei, yang dibutuhkan mereka itu obat dan vitamin, karena sembako ada tersedia," kata Edi.
Kendatipun ada pasien isoman yang belum mendapat sembako, pasien tersebut akan diberikan baik vitamin maupun sembako. Untuk menghindari hal-hal yang tidak menginginkan, hendaknya masyarakat memeriksakan diri ke klinik jika ada salah satu anggota keluarga yang terkonfirmasi positif.
Hal ini untuk memastikan kelayakan tempat tinggalnya jika memang memilih Isoman. "Kalau hasil pemeriksaan kategori harus Isoman, baru bisa. Tapi kalau ada hal-hal yang harus ditangani ya ditanggani dulu. Jangan sampai memposisikan (mendiagnosa) sendiri, mengambil keputusan sendiri begitu ada gejala langsung Isoman," ujarnya.
Berdasarkan laporan Dinkes Kukar, 90 persen pasien yang meninggal akibat Covid-19 belum mendapat vaksin. Kemudian ada sekitar 30 persen dari data kematian yang terlambat memeriksakan diri sehingga perburukannya sudah berat.
Masih banyak masyarakat yang memiliki stigma jika orang terpapar Covid-19 datang ke rumah sakit di tengah pandemi, maka penyakitnya akan semakin parah. Padahal itu merupakan tindakan paling rasional yang harus diambil pasien dan keluarga dan pihaknya memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik.
Memang saat awal gelombang dua pandemi Covid-19 di Kukar terjadi kepenuhan kapasitas rumah sakit. Namun kini ketersediaan tempat tidur disebutkan Edi sudah menurun hingga 50 persen dan diharapkan tidak kembali penuh.
"Tentunya pengendalian 2T (Tracing dan Testing) sangat diperlukan. Sekali lagi saya mengimbau masyarakat kalau ada gejala cepat saja diperiksa, baik itu di Puskesmas maupun di klinik RSDC," ujar Edi.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur