Pertama-tama mulai dari kelayakan kamar yang harus terpisah dari anggota keluarga lain, akan lebih baik lagi jika berada di lantai yang berbeda dengan anggota keluarga. Jikapun harus berpapasan setidaknya pasien dan anggota keluarga lain harus mengenakan masker dan menjaga jarak sejauh 1,5 meter.
Pasien dan anggota keluarga lain yang tidak terpapar tidak boleh menggunakan alat mandi, perlengkapan makan, hingga seprai yang sama.
Harus dipastikan pula sirkulasi udara, masuknya cahaya matahari, termasuk juga persediaan oksigen dan peralatan lainnya untuk menunjang kesembuhan pasien Isoman tersedia secara lengkap.
"Kalau semua barometer tadi bisa terpenuhi, maka dikatakan layak Isoman. Kalau tidak bisa maka sebaiknya dilakukan Isolasi Terbuka," ujar dr Nusa kepada korankaltim.com Senin (16/8/2021) hari ini.
Kelemahan dari Isoman ini adalah kurangnya pengawasan. Semisal pasien dengan penyakit penyerta atau kelompok lanjut usia tidak terjamin dengan baik terkait dengan nutrisi yang dibutuhkan, oksigen dan hal-hal lain untuk menunjang kesembuhan pasien.
Beda halnya dengan Isoter yang dijamin lebih aman dalam menunjang kesembuhan pasien dan menjaga anggota keluarga agar tidak ikut terpapar virus.
Makanya pasien dengan usia diatas 60 tahun, pasien bergejala, pasien dengan komorbid, ataupun situasi lain yang menyebabkan tempatnya tidak layak diarahkan untuk mengikuti Isoter.
Keberadaan RSDC Wisma Atlet Tenggarong dimaksudkan untuk mengurangi pasien-pasien yang menjalani Isoman di rumah masing-masing. Itu agar kondisi pasien-pasien dapat terkontrol dengan baik oleh petugas medis dengan mengikuti Isolasi secara terpusat.
RSDC Wisma Atlet telah mempersiapkan 282 tempat tidur demi mengurangi pasien-pasien Isoman agar kondisinya lebih terpantau dengan baik.
"Kita tahu untuk penularan Covid kan melalui percikan dahak atau pada saat berbicara keluar droplet segala macam, supaya terhindar dari risiko penularan yang semakin luas, maka dipusatkan di isolasi terpusat," tutup Nusa.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur