"Pesut yang mati kali ini dikenal dengan nama Miu, seekor betina yang pertama ditemukan di tahun 2017 dan belum masuk masa produktif sehingga sangat disesali kematiannya mengingat pesut lambat sekali reproduksi dengan interval melahirkan antara 3,5-5 tahun sekali," katanya.
Ia menjelaskan atas arahan dari BKSDA Kaltim dilakukanlah proses dokumentasi, pengukuran dan penguburan pada Sabtu (14/8/2021) pagi dengan tim pantau pesut dari Muara Muntai dan Muara Wis serta warga setempat. Pesut berukuran panjang 1.9 meter mati dalam kondisi mengenaskan karena dalam lambungnya terdapat dua rengge (jaring isang).
Rengge pertama yang agak tua dengan ukuran mata rengge 3.8 sentimeter tidak ada ikan. Rengge kedua dengan ukuran mata rengge 6.5 sentimeter terdapat tiga ekor ikan jenis repang dan dua ekor udang dalam rengge yang diperkirakan dari bentuk ikan, tertangkap dua hari yang lalu, Rabu (11/8/2021).
"Terjadinya kematian pesut selalu diwaspadai pada saat musim kemarau yang merupakan musim migrasi ikan kendia dan repang, makanan favorit Pesut. Karena ikan ini banyak dicari nelayan dengan pasang alat rengge, dikhawatirkan pesut dapat terkena rengge karena makan ikan dari rengge," jelasnya.
"Semoga dengan baru datang 40 buah alat akustik (pinger) yang dipesan di luar negeri yang memancar suara ultrasonik rencana akan dipasang di alat rengge pada akhir bulan ini, pesut dapat menjauh dari rengge. Dalam studi yang dilakukan sebelumnya ternyata pesut menjauh minimal 10 meter dan ikan besar malah tertarik rengge. Maaf Miu kami tidak berhasil menjaga mu. Semoga engkau bersenang renang di sungai yang indah di alam surga," tambah Danielle.
Terpisah, Camat Muara Wis, Arianto membenarkan kejadian matinya satu ekor mamalia air endemik Kalimantan ini. Ia pun cukup menyayangkan atas kejadian ini dan berharap kejadian ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.
"Semoga ini terakhir kalinya pesut Mahakam mati di perairan Muara Wis, tak hanya di Kecamatan kami mudahan di kecamatan lain juga tidak terjadi lagi mengingat hewan ini sangat dilindungi dan wajib kita lestarikan bersama-sama keberadaannya," demikian Arianto.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan
Yuk Tonton Videonya wal......