Dari data Rumah Sakit AM Parikesit, total sebanyak 100 orang lebih yang meninggal berstatus pasien Covid-19 yang belum vaksin, empat orang meninggal dengan status sudah vaksin dosis satu kali dan enam orang yang sudah vaksin lengkap.
"Iya data menunjukkan demikian. Vaksinasi Covid-19 sangat penting jangan sepelekan dan stop percaya berita miring terkait vaksin. Sebanyak 117 dari 127 orang meninggal di rumah sakit, semuanya belum vaksin Covid-19," kata Martina Yulianti saat dikonfirmasi korankaltim.com, Sabtu (7/8/2021).
Herd imunity atau kekebalan kelompok harus segera terbentuk di Kutai Kartanegara, oleh karena itu, Yuli sapaan akrabnya mengajak semua elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mensukseskan program vaksinasi nasional. Terlebih lagi saat ini varian delta Covid-19 sudah masuk di Kukar. Oleh karenanya semua orang berperan dalam menekan penyebaran Covid-19 ini dengan tetap prokes ketat serta bijaksana dalam bertindak.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Covid yang disebabkan oleh varian delta penularannya sangat cepat dan mengakibatkan penyakit yang berat terutama pada populasi rentan.
"Siapa populasi rentan? Seseorang yang belum vaksinasi lengkap, orang tua lansia termasuk pra lansia, seseorang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, asma, penyakit yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh, obesitas atau kegemukan," sebutnya.
Jika direview ke belakang, varian delta telah ada di Kutai Kartanegara sekitar akhir Juni 2021 dan dalam bulan Juli 2021 angka terkonfirmasi dan jumlah yang meninggal mencapai dua kali lipat dibanding Februari 2021.
"Mencapai dua kali lipat dibandingkan Februari tadi, puncak tertinggi pada gelombang pertama, data statistik untuk pasien yang meninggal dalam keadaan terkonfirmasi positif Covid-19 di RSUD AM Parikesit menunjukkan bahwa 92 persen belum mendapatkan vaksinasi sama sekali, sisanya baru mendapatkan vaksin dosis 1 sedangkan 4 persen yang meninggal padahal telah mendapatkan vaksinasi lengkap adalah mereka yang memiliki penyakit penyerta dan mereka yang terlambat datang memeriksakan dirinya yakni datang ketika telah mengalami desaturasi yaitu saturasi oksigen di bawah 93 persen," jelas Yuli.
Bagi warga yang sudah mendapatkan vaksin lengkap tetap bijak dalam bertindak di setiap harinya, terutama wajib menerapkan Prokes ketat.
"Beraktivitas harus tetap Prokes ketat, karena kita masih bisa tertular, ingat ya, vaksin bukan obat kebal seperti juga umumnya vaksin-vaksin lain yang pernah kita kenal sebelumnya, dia hanya mencegah kita mengalami sakit berat itupun dengan catatan, tubuh kita berhasil membentuk antibodi yang kuat," tegasnya.
"Ketika kita tertular Covid-19 dan beruntung karena Allah hanya memberikan penyakit derajat ringan bagi kita, lalu apakah kita boleh meremehkan Prokes. Tentu tidak, karena kita sangat mungkin menjadi penular kepada orang lain yang mungkin saja merupakan kelompok rentan. Nah disitulah diam-diam, tanpa kita sadari bahwa kita telah menjadi perantara hilangnya nyawa orang lain. Lalu bagaimana dengan anda yang termakan hoaks anti vaksin, jelas anda termasuk bagian dari populasi rentan," demikian Yuli.
Penulis Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan