Lonjakan tersebut sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kriteria kesembuhan dari WHO. Pasien tanpa gejala bisa dinyatakan sembuh setelah melewati masa isolasi selama 10 hari. Kemudian pasien gejala ringan bisa dinyatakan sembuh setelah melewati masa isolasi minimal 10 hari, ditambah tiga hari tanpa gejala.
Sehingga, lonjakan kasus sembuh ini bukanlah sesuatu yang istimewa selama pasien-pasien yang memiliki gejala berat hingga kritis masih banyak yang belum sembuh. "Ketika terjadi lonjakan penambahan kasus, maka akan ditutup pula dengan lonjakan kesembuhan yang besar," kata Martina menggambarkan fenomena lonjakan kesembuhan ini, Selasa (3/8/2021).
Kriteria kesembuhan pasien gejala berat hingga kritis ini haruslah melewati masa isolasi 10 hari ditambah tiga hari tanpa menunjukan gejala dan dibuktikan dengan hasil PCR negatif. Tak jarang, pasien Covid-19 berat dan kritis ini berujung pada kehilangan nyawa.
Martina merasakan atmosfer kemenangan melawan Covid-19 jika pasien-pasien gejala berat ini berhasil sembuh. "Saya bagian yang menyuarakan yang berat, karena kalau bukan saya siapa lagi. Kan yang tahu kondisi tentang pasien kasus berat ini saya," ucapnya. Menurutnya, kebanyakan yang meninggal ini masih sangat bugar. Tak sedikit yang berusia di bawah 40 tahun dan tidak memiliki gejala.
Tak hanya yang belum vaksin, tapi juga yang sudah vaksin. Kemudian, apakah lonjakan kasus kesembuhan ini menyebabkan kapasitas perawatan di rumah sakit menjadi lowong ? Dia jelas-jelas menyebutkan tidak berpengaruh sama sekali mengingat pasien-pasien sembuh ini merupakan orang yang isolasi mandiri di rumah dan di Wisma Atlet. "Ndak akan ada pengaruhnya. Karena RS ini menampung bukan orang gejala ringan tanpa gejala, tapi yang memang jelek kondisinya," pungkansya.
Penulis: */Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan