Media ini mencoba mengkonfirmasi langsung kepada Evi setelah empat jam status Facebook itu dibuat. Dia menceritakan kejadian tersebut bermula ketika dia menjaga kedainya di Jalan Mangkuraja 10, selepas waktu Magrib.
Waktu itu, dia berpesan kepada anaknya yang berusia sembilan tahun untuk menjaga kedainya, sementara dia hendak kembali ke kamarnya. Tak lama, anak yang sedang menjaga kedai tadi itu berteriak dengan nada ketakutan, memberitahukan kepada Evi ada seseorang yang masuk ke area kedai.
"Saya kira orang beli, saya bilang 'sebentar bunda mau pakai jilbab'. Saya dengar anak saya ketakutan kan, terus saya mau lihat kenapa anak saya sampai ketakutan kayak gitu," ujarnya kepada Korankaltim.com.
Sesampainya di luar, Evi melihat pria yang tidak dikenal itu sudah berada di depan pintu dorong rumahnya. Pemuda ini pun tidak menyahut seruan Evi ketika ditanya perlu apa datang ke rumahnya. Tangan kanannya berada di belakang pinggang seakan menyembunyikan sesuatu. Dari situ Evi menyadari, pria ini bukan hendak membeli dagangannya melainkan ada maksud lain.
"Saya sudah merasa enggak enak, karena satu tangannya ada di belakang. Cuman saya masih enggak tahu itu apa. Ketika saya menyeru lagi, tiba-tiba dia masuk ke dalam dan langsung menusuk saya," bebernya.
Saat itu Evi sempat terjatuh ke lantai ketika ditusuk, sementara anaknya berteriak histeris saat melihat ibunya ditikam orang tak dikenal. Namun beruntungnya Evi merasa pisau tersebut melengkung dan tidak menembus terlalu dalam ke kulit perutnnya. Dia bersyukur akan perlindungan Tuhan atas hal itu.
Pemuda tersebut kemudian lari. Evi bangkit dari jatuhnya dan berlari menuju rumah tetangga di sebelahnya untuk meminta tolong. "Para tetangga semua pada nyari orang itu tadi kan, gak lama datang suami saya dan dia ikut nyari juga," ujarnya.
Pemuda tersebut didapati oleh suami Evi dan tetangga tidak jauh dari lokasi kejadian. Dia kemudian diamankan warga sembari menunggu petugas Polres Kukar datang ke lokasi. Evi sendiri mengaku tidak mengenali siapa pemuda tersebut.
Namun setelah diminta pihak kepolisian untuk mendatang Polres Kukar usai diamankannya pemuda ini, akhirnya Evi diberi tahu bahwa pemuda tersebut merupakan warga jalan Mangkuraja 6 yang memiliki gangguan jiwa atau ODGJ.
Hal itu, lanjut Evi, menyebabkan pemuda ini tidak bisa diadili. Evi juga telah bertemu dengan ibu pelaku, dijelaskan ibu pelaku bahwa pemuda ini akan dikurung di rumahnya agar tidak berbuat onar ke orang-orang sekitar.
"Jadi tidak bisa diadili, bilangnya kayak gitu. Kalau saya sih alhamdulilah saya gak kenapa-kenapa, tapi saya takutnya nanti kejadian dengan orang-orang yang lain lagi," tuturnya.
Menurut cerita sang suami, lanjut Evi, pemuda tersebut sempat melihat pemuda ini mengganggu orang-orang yang lewat di Jalan Mangkuraja saat sedang pergi bersama kedua anaknya. Lokasi tersebut pun tidak jauh dari rumahnya, namun kemudian rumah Evi menjadi sasaran selanjutnya.
Menurut informasi yang diterima Evi dari tetangga, pemuda ini memang sering berkeliaran sambil menghirup lem dan kerap memalak orang-orang yang berdagang di jalan itu. Evi dan suaminya sepakat untuk berdamai terhadap kasus ini. Namun pemuda tersebut masih juga berkeliaran.
Keesokan harinya, mertua Evi melihat anak tersebut berkeliaran di depan rumahnya di jalan yang sama. Bahkan sempat menegur mertuanya dengan panggilan om. "Om, kata dia lewat sambil ketawa. Ingatannya masih kuat karena dia ingat waktu itu mertua saya juga ikut mencari dia," ungkap Evi.
Hal ini menjadi ketakutan sekaligus alasan Evi untuk memposting hal itu kepada publik. Agar tidak terjadi hal yang sama terhadap orang lain seperti dialaminya malam itu. "Saya posting itu bukan untuk apa-apa, tapi untuk memberitahukan ke warga Tenggarong ini untuk hati-hati," tandansya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan