"Jikalau ada yang masih memandang hal ini sesuatu yg dibuat-buat direkayasa, mengandung modus, saya tantang orang yang percaya hoaks itu untuk magang 1 hari di UGD Covid, 1 hari di ruang jenazah," kata Yuli kepada korankaltim.com, Rabu (21/7/2021).
Ia pun berharap pihak media juga pro aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, karena ia sering kali menemui orang percaya dengan informasi hoaks seputar Covid-19 dan menyebarluaskan tanpa verifikasi.
Misalnya, tudingan vaksin berbahaya, rekayasa Covid-19 dan berbagai tuduhan minus lainnya terkait pandemi nyata ini.
"Informasi seperti itu (hoaks,red) yang mempengaruhi masyarakat sekitar. Tidak banyak (orang tidak percaya Covid-19, red) memang tapi mereka ada, dan kami capek dengan hal-hal seperti ini, kita sudah perang melawan Covid-19 juga harus dipusingkan dengan pemahaman yang menyesatkan seperti itu, kasihan para nakes kita," ucapnya kepada korankaltim.com siang ini.
Ia menegaskan penyebar hoaks ini juga melemahkan upaya kemanusiaan para nakes yang menjadi garda terdepan. Plt Dirut RSUD AM Parikesit ini menegaskan, Covid-19 adalah bencana nyata. Sebab Covid-19, rumah sakit dan tempat karantina jadi penuh, angka kematian melonjak tinggi menyebabkan banyaknya orang kehilangan orangtua, anggota keluarga dan sahabat-sahabat.
"Bencana ini nyata. Sangat nyata. Saya tidak peduli dari mana awalnya virus corona, yang pasti korban terus berjatuhan di depan mata kita. Banyak anak yang sudah menjadi yatim piatu, banyak keluarga yang telah kehilangan tulang punggung keluarganya," tegasnya.
"Yang terbaru angka sebaran belum juga menunjukkan tanda-tanda penurunan bahkan kami lihat ini masih akan naik, makanya kami tekankan tolong patuhi 5M. Bantu kami karena kondisi saat ini juga rumah sakit penuh," demikian Yuli.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Desman Minang